Mimpi Asia Menguasai Sepak Bola Dunia Masih Tertunda: Pelajaran dari Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Asia mengirimkan rekor sembilan tim ke Piala Dunia 2026, namun hanya Australia yang lolos ke fase gugur, kontras dengan Afrika yang meloloskan sembilan dari sepuluh wakilnya.
- Kegagalan Jepang dan Korea Selatan menyoroti masalah struktural: kurangnya pelatih berkelas dunia, mentalitas inferior, serta campur tangan politik dan kronisme dalam federasi.
- Tanpa perbaikan mendasar, termasuk pembinaan pelatih elite dan pemanfaatan diaspora, ambisi Asia menjadi pusat sepak bola dunia masih akan tertunda hingga beberapa dekade.

Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada seharusnya menjadi panggung pembuktian bagi sepak bola Asia. Dengan rekor sembilan tim yang lolos, optimisme menguat bahwa abad Asia dalam sepak bola akhirnya tiba. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain: hanya Australia yang berhasil melaju ke babak gugur, sementara delapan wakil Asia lainnya—termasuk raksasa regional seperti Jepang dan Korea Selatan—pulang lebih awal. Kontras dengan Afrika yang mengirim sembilan dari sepuluh timnya ke fase knockout, Asia justru menunjukkan stagnasi yang memprihatinkan.
Kegagalan Jepang menjadi sorotan paling tajam. Tim Samurai Biru, yang telah tampil di setiap Piala Dunia sejak 1998, kembali gagal memenangi laga knockout. Pelatih Hajime Moriyasu mengambil keputusan kontroversial dengan bermain ultra-defensif setelah unggul 45 menit pertama melawan Brasil. Ketika Carlo Ancelotti mengubah taktik di babak kedua, Moriyasu tidak merespons dengan berani. Hasilnya, gol kemenangan Brasil di masa tambahan waktu terasa seperti takdir yang sudah ditunggu. Ini adalah ketiga kalinya berturut-turut Jepang kehilangan keunggulan di babak gugur.
Korea Selatan, yang tersingkir di fase grup yang relatif mudah, menghadapi reaksi publik yang lebih keras. Presiden Lee Jae Myung menyatakan "kebingungan total" dan menuding adanya "nepotisme dan kronisme" dalam federasi. Pelatih Hong Myung-bo bahkan menerima ancaman pembunuhan. Meskipun reaksi tersebut berlebihan, insiden ini membuka tabir permasalahan mendasar: tata kelola sepak bola Asia yang masih didera intervensi politik dan kepentingan pribadi.
Di kawasan Asia Barat, masalahnya berbeda. Qatar, juara Asia dua edisi terakhir, gagal bersinar meski dilatih Julen Lopetegui. Arab Saudi, yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034, masih bergantung pada pemain asing seperti Cristiano Ronaldo untuk menghidupkan liga domestiknya. Uang, sebesar apa pun, tidak bisa menggantikan budaya sepak bola yang mengakar. Iran, dengan segala keterbatasan akibat perang dan kesulitan visa, masih bisa dimaklumi. Namun, kegagalan Qatar dan Arab Saudi menunjukkan bahwa investasi finansial semata tidak cukup.
Bagi Indonesia, realitas ini memberikan pelajaran berharga. Sepanjang sejarah, hanya Indonesia (saat masih bernama Hindia Belanda) yang pernah mewakili Asia Tenggara di Piala Dunia, yaitu pada edisi 1938. Rencana pengajuan tuan rumah bersama untuk Piala Dunia 2046 yang melibatkan Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China terdengar ambisius, tetapi seperti yang diingatkan oleh komentator, ambisi semacam itu sering kandas oleh realitas politik. Tanpa perbaikan fundamental dalam pembinaan pemain, pelatih, dan tata kelola, sekadar menjadi tuan rumah tidak akan mengubah nasib sepak bola Asia.
Salah satu faktor kunci yang membedakan Asia dengan Afrika adalah kedekatan geografis dengan Eropa. Banyak pemain Afrika lahir atau besar di Eropa, sehingga mereka terbiasa dengan kompetisi level tinggi. Asia tidak memiliki keuntungan diaspora yang sama. Jepang, misalnya, hampir semua pemainnya bermain di klub Eropa, tetapi pelatihnya masih berasal dari dalam negeri tanpa pengalaman internasional. Federasi Jepang perlu segera meniru kesuksesan mereka dalam menghasilkan pemain elite dengan menciptakan generasi pelatih elite yang mampu bersaing di panggung global.
Piala Dunia 2026 telah menjadi cermin bagi Asia: potensi besar belum diimbangi dengan prestasi. Visi Sepp Blatter dua dekade lalu bahwa "masa depan sepak bola ada di Asia" masih jauh dari kenyataan. Pertanyaan yang kini menggantung: mampukah Asia belajar dari kegagalan ini, atau akan terus terjebak dalam siklus harapan dan kekecewaan?



