Kontroversi VAR di Piala Dunia: Solusi Baru untuk Aturan Offside yang Lebih Adil
Baca dalam 60 detik
- Piala Dunia 2026 memicu perdebatan sengit tentang akurasi VAR dalam menentukan offside, mendorong usulan revisi aturan.
- Sejumlah analis menilai teknologi semi-otomatis belum cukup; diperlukan perubahan fundamental pada definisi offside untuk mengurangi kontroversi.
- Revisi aturan offside berpotensi mengubah strategi permainan dan memberikan dampak langsung pada kompetisi domestik, termasuk Liga Indonesia.

Piala Dunia 2026 yang akan datang telah memicu gelombang kritik terhadap sistem Video Assistant Referee (VAR), khususnya dalam penerapan aturan offside yang dinilai terlalu kaku dan sering memicu kontroversi. Sejumlah pengamat sepak bola, termasuk jurnalis senior Susy Campanale, menilai bahwa teknologi canggih justru memperumit interpretasi offside, bukan menyederhanakannya. Campanale mengusulkan pendekatan baru yang diyakini dapat mengakomodasi kepentingan semua pihak tanpa mengorbankan keadilan pertandingan.
Dalam analisisnya, Campanale menyoroti bahwa VAR yang dirancang untuk mengurangi kesalahan wasit justru menimbulkan kemarahan baru. Garis-garis tipis yang menentukan posisi pemain seringkali tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, sehingga keputusan offside menjadi perdebatan panjang. “Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada aturan yang tidak dirancang untuk akurasi milimeter,” tulisnya. Ia mengusulkan agar aturan offside dikembalikan pada prinsip “keuntungan nyata” — hanya pemain yang secara jelas mendapatkan keuntungan dari posisinya yang dianggap offside.
Usulan ini mendapat dukungan dari beberapa pelatih dan mantan wasit yang merasa bahwa VAR telah mengubah esensi sepak bola. Mereka berargumen bahwa offside seharusnya tidak dihitung jika perbedaan posisi hanya beberapa sentimeter, karena hal itu tidak memberikan keuntungan signifikan bagi penyerang. Sebaliknya, aturan yang lebih longgar akan membuat permainan lebih mengalir dan mengurangi interupsi yang memecah konsentrasi tim.
Konteks Indonesia: Perdebatan ini relevan bagi perkembangan sepak bola nasional. Liga 1 Indonesia yang mulai mengadopsi VAR pada musim 2024/2025 menghadapi tantangan serupa. Beberapa pertandingan diwarnai protes keras akibat keputusan offside yang dianggap tidak konsisten. Jika FIFA merevisi aturan offside, PSSI kemungkinan akan menyesuaikan pedoman teknis VAR di liga domestik. Hal ini bisa berdampak pada strategi pelatih yang selama ini mengandalkan jebakan offside sebagai taktik bertahan.
Namun, tidak semua pihak setuju dengan usulan tersebut. Kritikus berpendapat bahwa melonggarkan aturan offside justru akan menguntungkan tim bertahan dan mengurangi jumlah gol. Mereka khawatir perubahan ini akan mengubah identitas sepak bola modern yang mengedepankan kecepatan dan presisi. “Jika offside hanya dihitung ketika jelas-jelas menguntungkan, maka wasit akan kembali dihadapkan pada subjektivitas yang ingin dihilangkan oleh VAR,” ujar seorang analis teknis FIFA.
Pertanyaan besarnya adalah apakah FIFA berani mengambil langkah radikal ini menjelang Piala Dunia 2026. Dengan turnamen yang akan digelar di tiga negara — Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko — tekanan untuk menyajikan pertandingan yang bersih dan minim kontroversi semakin besar. Jika revisi aturan offside benar-benar diterapkan, maka dunia sepak bola akan menyaksikan perubahan fundamental yang bisa mengubah cara kita menikmati olahraga ini.



