Dua Senjata Berbeda di Lini Depan Belgia: Lukaku dan De Ketelaere Siap Bikin Senegal Gigit Jari
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Rudi Garcia memiliki opsi ganda di lini depan Belgia: Romelu Lukaku sebagai predator kotak penalti dan Charles De Ketelaere sebagai false nine kreatif.
- Lukaku nyaris absen di Piala Dunia 2026 akibat cedera panjang, namun pulih tepat waktu dan menjadi pembeda lewat gol krusial melawan Selandia Baru.
- De Ketelaere, yang lebih suka bermain di belakang penyerang murni, menjadi jembatan antara lini tengah dan pertahanan lawan, memberi fleksibilitas taktik bagi Belgia.

Belgia memiliki dua senjata ofensif yang kontras namun sama-sama mematikan jelang laga 32 besar Piala Dunia 2026 melawan Senegal di Seattle. Romelu Lukaku, predator haus gol, dan Charles De Ketelaere, false nine dengan naluri kreator, memberi pelatih Rudi Garcia fleksibilitas yang langka di turnamen seketat ini.
Lukaku, yang nyaris absen karena cedera pramusim bersama Napoli, hanya tampil 64 menit sepanjang musim. Namun, ia bangkit tepat waktu dan menjadi pahlawan lewat gol penentu kemenangan 5-1 atas Selandia Baru yang mengantar Belgia ke puncak grup. โSaya senang bisa di sini. Bahkan akhir April lalu masih ada keraguan apakah saya masuk skuad,โ ujar Lukaku dalam konferensi pers, seperti dikutip FIFA.
Di sisi lain, De Ketelaere belum mencetak gol di turnamen ini, tetapi perannya sebagai pengatur serangan dari posisi ujung tombak palsu tak kalah vital. Ia memulai dua dari tiga laga Belgia sebagai false nine, membuka ruang bagi rekan setim. โMencetak gol memang luar biasa, tapi memberikan assist juga penting. Itu salah satu kelebihan saya,โ kata pemain Atalanta itu.
Kombinasi keduanya menjadi senjata rahasia Belgia. Lukaku adalah finisher klasik yang bisa bermain dengan punggung menghadap gawang, lari ke belakang pertahanan, dan mencetak gol dari berbagai sudut. Sementara De Ketelaere lebih nyaman sebagai second striker atau gelandang serang di belakang penyerang murni seperti Lukaku. โKami harus memanfaatkan kekuatan fisik di turnamen ini, dan Charles adalah bagian besar dari itu,โ ujar Garcia.
Lukaku, yang sempat diragukan tampil, mengaku komunikasi dengan rekan setim saat di bangku cadangan menjadi kunci. โSaat Anda di bangku cadangan, penting untuk terus berkomunikasi dan mengikuti jalannya pertandingan. Itu membuat segalanya lebih mudah saat masuk,โ jelasnya. Sikap profesional ini menunjukkan kedewasaan sang striker yang kini berusia 31 tahun.
Bagi Indonesia, duel Belgia vs Senegal bisa menjadi tontonan menarik untuk mempelajari bagaimana tim besar mengelola dua tipologi penyerang berbeda. Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, mungkin bisa mencatat fleksibilitas Garcia dalam merotasi pemain depan โ pelajaran berharga untuk menghadapi lawan-lawan tangguh di kancah Asia.
Laga 32 besar nanti akan menjadi ujian sesungguhnya: mampukah Belgia memaksimalkan dua senjata berbeda ini untuk menembus pertahanan Senegal yang solid? Atau justru ketidakseimbangan peran antara Lukaku dan De Ketelaere akan menjadi celah yang dieksploitasi lawan?



