Tuchel di Ujian Terberat: Inggris Hadapi Kongo di Babak Gugur Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Inggris memasuki fase knockout Piala Dunia dengan pertahanan yang rapuh akibat cedera Reece James dan Jarell Quansah, menyisakan Djed Spence sebagai satu-satunya bek kanan murni.
- Kekalahan Jerman dan Belanda di babak 32 besar menjadi peringatan bagi Tuchel bahwa margin kesalahan sangat tipis, dan tekanan publik semakin besar.
- Declan Rice menjadi kunci keseimbangan tim, terutama setelah lini tengah Inggris kewalahan saat melawan Panama tanpa dirinya.

Thomas Tuchel, pelatih kepala Inggris, memasuki fase paling krusial dalam misinya membawa pulang trofi Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1966. Setelah melewati babak grup dengan hasil yang memuaskan namun tidak spektakuler, The Three Lions kini bersiap menghadapi Republik Demokratik Kongo di Atlanta pada laga babak 32 besar, Rabu (17:00 BST). Satu langkah salah bisa mengakhiri perjalanan Tuchel lebih cepat dari yang diharapkan.
Tuchel sebelumnya membagi perjalanan Inggris ke dalam tiga babak. Babak pertama adalah pemusatan latihan di Miami, lalu lolos dari Grup L sebagai pemuncak klasemen. Babak kedua, yang disebutnya "memuaskan tapi tidak menggigit", berisi kemenangan atas Kroasia dan Panama serta hasil imbang tanpa gol yang mengecewakan melawan Ghana. Kini, babak ketiga dimulai: sistem gugur, di mana tidak ada ruang untuk kesalahan.
Kelemahan paling mencolok Inggris ada di lini belakang. Cedera yang menimpa Reece James (hamstring) dan Jarell Quansah membuat opsi bek kanan Tuchel menipis. Djed Spence menjadi satu-satunya bek kanan murni yang fit, meski Tuchel bisa memindahkan Ezri Konsa dari posisi bek tengah. Situasi ini memaksa Tuchel mengandalkan pemain serba bisa, sebuah strategi yang dipertanyakan banyak pihak. Mantan kapten Inggris Wayne Rooney mengkritik ketidakstabilan lini belakang, terutama di posisi bek kanan yang menjadi titik lemah.
Kekhawatiran lain datang dari performa lini tengah. Saat Tuchel mengistirahatkan Declan Rice melawan Panama—keputusan bijak mengingat Rice telah mengantongi kartu kuning dan mengalami cedera hamstring—Inggris tampil terbuka dan kewalahan. Elliot Anderson, yang ditempatkan sebagai gelandang tengah tunggal, kewalahan menghadapi serangan balik Panama. Rice, bersama Harry Kane dan Jude Bellingham, dianggap sebagai pemain yang tidak tergantikan. Kemampuannya sebagai penyaring pertahanan, distributor bola, dan pengambil set piece menjadi vital bagi skema Tuchel.
Tuchel sendiri mengakui tekanan yang dihadapi. "Kami adalah favorit. Kami bermain melawan ekspektasi kami sendiri. Kami berharap melangkah lebih jauh dari babak 32 besar, jadi mengapa publik tidak boleh berharap seperti itu?" ujarnya di Atlanta. Ia menambahkan bahwa margin kemenangan sangat tipis, seperti yang terlihat dari kekalahan mengejutkan Jerman dari Paraguay dan Belanda dari Maroko. Kedua pelatih, Julian Nagelsmann dan Ronald Koeman, kini berada dalam tekanan besar—Koeman bahkan mengundurkan diri dalam 24 jam setelah kekalahan.
"Tidak ada sedikit pun rasa percaya diri berlebihan dalam pendekatan kami. Pertandingan di babak 32 besar berbicara dengan bahasa yang sangat jelas. Marginnya sangat tipis. Ini sebenarnya membuat saya lebih tenang daripada gugup." — Thomas Tuchel
Bagi Indonesia, Piala Dunia ini menjadi tontonan yang menarik karena banyak pemain keturunan atau diaspora yang bermain di Eropa. Namun, pelajaran dari kegagalan Jerman dan Belanda juga relevan: tim besar tidak boleh meremehkan lawan. Inggris, dengan sejarah panjang kegagalan di turnamen besar, harus belajar dari pengalaman tersebut. Tuchel, yang pernah membawa Chelsea juara Liga Champions, tahu betul bahwa reputasi tidak menjamin kemenangan.
Pertandingan melawan DR Congo akan menjadi ujian pertama sebenarnya. Jika Inggris mampu melewati laga ini dengan performa meyakinkan, kepercayaan diri akan meningkat. Namun, jika tersandung, gelombang kritik akan kembali menerpa Tuchel. Pertanyaan besarnya: mampukah Tuchel meracik formula yang tepat di tengah keterbatasan pemain, atau akankah Piala Dunia ini menjadi cerita lain tentang kegagalan Inggris di panggung global?



