Kartu Merah karena Tutup Mulut: Aturan Baru FIFA Mulai Diterapkan di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Bek Ekuador Piero Hincapie menjadi pemain kedua yang diusir wasit karena menutup mulut saat berbicara dengan lawan, menyusul Miguel Almiron dari Paraguay.
- Aturan ini dirancang FIFA untuk mencegah ujaran rasis atau provokatif yang tersembunyi, namun penerapannya masih bergantung pada interpretasi wasit.
- Insiden ini memicu perdebatan tentang konsistensi sanksi, terutama setelah Jude Bellingham tidak dihukum dalam situasi serupa.

Piero Hincapie, bek Arsenal berusia 24 tahun, menjadi pemain kedua di Piala Dunia 2026 yang mendapat kartu merah langsung karena menutup mulut saat berhadapan dengan lawan. Insiden terjadi pada injury time babak kedua saat Ekuador tertinggal 0-2 dari Meksiko dan harus tersingkir dari turnamen.
Wasit asal Slovenia, Slavko Vincic, awalnya tidak melihat kejadian tersebut. Namun, setelah mendapat rekomendasi dari Video Assistant Referee (VAR), ia memeriksa monitor di pinggir lapangan dan menjatuhkan hukuman maksimal. Hincapie mengikuti jejak gelandang Paraguay, Miguel Almiron, yang lebih dulu diusir karena pelanggaran serupa saat melawan Turki di fase grup.
Aturan baru FIFA ini menuai sorotan karena penerapannya yang dinilai belum konsisten. Pekan lalu, gelandang Inggris Jude Bellingham juga menutup mulut saat berbicara dengan pemain Ghana, Jordan Ayew, tetapi tidak mendapat sanksi. Sebelum turnamen, kepala wasit FIFA Pierluigi Collina menjelaskan bahwa pemain diperbolehkan menutup mulut jika dalam "percakapan ramah", namun aturan ini dirancang untuk interaksi yang bersifat "konfrontatif".
Keputusan untuk menerapkan aturan ini diambil dalam pertemuan khusus Ifab di Vancouver pada April lalu. Presiden FIFA Gianni Infantino sebelumnya menyatakan dukungannya terhadap hukuman semacam ini, dengan mengatakan bahwa wasit harus bekerja dari "praduga" bahwa pemain telah mengatakan "sesuatu yang tidak seharusnya".
Isu menutup mulut mencuat pada Februari lalu ketika pemain sayap Benfica, Gianluca Prestianni, mengangkat bajunya saat berbicara dengan Vinicius Jr dalam laga Liga Champions. Ia dituduh melakukan pelecehan rasialโyang dibantahnyaโdan diskors satu pertandingan. Setelah penyelidikan UEFA, Prestianni terbukti melakukan tindakan homofobik dan dihukum enam pertandingan, tiga di antaranya ditangguhkan.
Bagi Indonesia, aturan ini relevan mengingat sepak bola Tanah Air kerap diwarnai insiden ujaran kebencian dan diskriminasi. Penerapan sanksi serupa di Liga Indonesia bisa menjadi preseden untuk menekan perilaku tidak sportif, meskipun tantangan konsistensi dan interpretasi wasit tetap menjadi pekerjaan rumah. Ke depannya, FIFA perlu memberikan pedoman yang lebih jelas agar tidak terjadi ketimpangan hukuman seperti yang dialami Bellingham dan Hincapie.



