Gelombang Panas 'Heat Dome' Mengancam Piala Dunia 2026: Suhu Capai 46 Derajat Celsius
Baca dalam 60 detik
- Fenomena 'heat dome' menyebabkan suhu di Amerika Serikat bagian tengah dan timur mencapai 40-46°C selama fase gugur Piala Dunia 2026.
- FIFA telah mewajibkan jeda hidrasi tiga menit per babak, namun kritikus menilai langkah ini mengganggu ritme pertandingan.
- Tiga stadion dengan atap retractable dan AC di Atlanta, Dallas, dan Houston menjadi andalan, sementara kota lain seperti Toronto dan New Jersey berisiko tinggi.

Gelombang panas ekstrem yang dikenal sebagai 'heat dome' diprediksi menyelimuti sebagian besar Amerika Serikat dan Kanada selama babak gugur Piala Dunia 2026, membawa suhu yang dapat membahayakan pemain dan penggemar. Menurut National Weather Service AS, indeks panas di kawasan Midwest dan Pantai Timur diperkirakan mencapai 40 hingga 46 derajat Celsius, dengan puncaknya bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan AS ke-250.
Fenomena ini terjadi ketika tekanan tinggi memerangkap udara panas dan lembap di suatu wilayah, menciptakan kondisi yang sulit mereda bahkan setelah matahari terbenam. Alan Reppert, ahli meteorologi senior AccuWeather, menjelaskan bahwa pola cuaca ini akan membuat suhu tetap tinggi sepanjang sore hingga malam hari. New Jersey, yang menjadi tuan rumah laga 16 besar pada 5 Juli, diperkirakan akan mencatat suhu tertinggi sejak 2013.
Kekhawatiran akan keselamatan pemain kembali mengemuka setelah serikat pemain FIFPRO tahun lalu menyebut kondisi serupa sebagai 'peringatan keras' saat Piala Dunia Antarklub di AS. Menanggapi hal ini, FIFA telah menerapkan jeda hidrasi wajib selama tiga menit di setiap babak pada Piala Dunia tahun ini. Langkah ini dipuji sebagai upaya melindungi pemain, namun tidak sedikit yang mengkritiknya karena dianggap mengganggu alur pertandingan.
Toronto, yang menjamu laga Portugal vs Kroasia pada babak 32 besar, telah memberlakukan strategi penanggulangan panas setelah peringatan cuaca dikeluarkan. Sementara itu, tiga stadion dengan atap retractable dan pendingin udara—Atlanta, Dallas, dan Houston—menawarkan kenyamanan relatif. Namun, perjalanan menuju stadion di Dallas, yang dikelilingi beton dan aspal, tetap terasa seperti berjalan di atas bara api karena penyerapan panas yang tinggi.
Dokter Alina Mitina dari Hackensack University Medical Center di New Jersey mengingatkan penggemar untuk mencari tempat teduh dan mewaspadai gejala penyakit terkait panas seperti pusing. "Area teduh benar-benar bisa menyelamatkan nyawa dalam situasi seperti ini," ujarnya. Ia menekankan pentingnya ketersediaan air minum dan tempat berteduh di sekitar stadion.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan risiko cuaca ekstrem di ajang olahraga global. Meski tidak terlibat langsung, pengalaman negara tropis dalam menghadapi panas berlebih dapat menjadi pelajaran. Ke depannya, FIFA mungkin perlu mempertimbangkan penjadwalan ulang pertandingan atau penggunaan teknologi pendingin di stadion untuk mengurangi risiko. Namun, tanpa respons resmi dari FIFA terkait langkah tambahan, pertanyaan tentang kesiapan turnamen menghadapi perubahan iklim masih menggantung.



