Mimpi Sepak Bola Amerika: Dari Keanehan 1994 Menuju Ledakan 2026
Baca dalam 60 detik
- Mantan bintang AS Cobi Jones menilai Piala Dunia 2026 akan mendorong pertumbuhan sepak bola di Amerika Serikat secara eksponensial, melampaui dampak edisi 1994 yang melahirkan Major League Soccer.
- Perubahan persepsi publik Amerika terhadap turnamen ini sangat signifikan: dari sekadar 'keanehan' menjadi ajang yang dipahami dan diikuti oleh masyarakat luas.
- Jones melihat potensi finansial yang belum tergarap, dengan semakin banyaknya perusahaan yang ingin terlibat, serta pentingnya integrasi pemain multikultural dalam skuad AS.

Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat diprediksi akan meledakkan popularitas sepak bola di negeri Paman Sam secara eksponensial, melampaui dampak edisi 1994 yang hanya melahirkan Major League Soccer (MLS). Demikian keyakinan Cobi Jones, mantan gelandang timnas AS yang turut merumput di turnamen 32 tahun lalu.
Jones, yang kini menjadi salah satu ikon sepak bola Amerika, membandingkan atmosfer dua edisi Piala Dunia yang digelar di AS. Menurutnya, pada 1994 turnamen ini masih dipandang sebagai 'keanehan' oleh masyarakat umum. "Orang-orang bertanya, 'Apa sih sepak bola besar ini?'," ujarnya dalam wawancara eksklusif dengan Reuters di Houston, Selasa (30/6). Kini, publik Amerika sudah memiliki pemahaman yang jauh lebih baik tentang ajang empat tahunan tersebut.
Transformasi ini tidak lepas dari perubahan lanskap media dan budaya. Jika dulu penggemar harus mencari pub Inggris atau menonton siaran berbahasa Spanyol di Telemundo, kini fan zone raksasa yang menarik puluhan ribu orang telah menjadi pemandangan biasa. Jones menegaskan bahwa dampak 2026 tidak hanya sebatas pengakuan publik, melainkan juga ledakan finansial. "MLS adalah langkah terencana setelah 1994. Sekarang, saya memikirkan sisi keuangan dan semakin banyak perusahaan yang ingin terlibat," katanya.
Jones, yang memegang rekor caps terbanyak AS dengan 164 penampilan, melihat paralel menarik antara tim 1994 dan skuad masa kini. Di era pelatih Bora Milutinovic, tim AS dihuni pemain seperti Roy Wegerle (kelahiran Afrika Selatan) dan Thomas Dooley (ayah tentara AS di Jerman). Kini, pemain seperti Sergino Dest (dibesarkan di Belanda) dan Folarin Balogun (lahir New York, besar di Inggris) membawa warna serupa. "Ini sudah menjadi norma, jadi kami tidak lagi berbeda. Tantangannya adalah bagaimana mereka berintegrasi dengan pemain yang dibesarkan di AS," ujar Jones.
Bagi Indonesia, perkembangan sepak bola di AS menawarkan pelajaran berharga. Negeri dengan basis olahraga tradisional yang kuat mampu mengubah persepsi terhadap sepak bola hanya dalam tiga dekade. Investasi infrastruktur, pembinaan pemain multikultural, dan keterlibatan korporasi menjadi kunci. Jika Indonesia ingin mengejar ketertinggalan, langkah serupa—mulai dari pembangunan akademi hingga menarik sponsor global—bisa menjadi cetak biru. Apalagi, dengan populasi muda yang besar, potensi pasar sepak bola Indonesia tak kalah dari AS.
Jones optimistis masa depan sepak bola Amerika cerah, meski banyak yang meragukan. "Potensinya belum tergarap. Saya tahu semua orang bilang sepak bola tidak akan pernah menjadi olahraga terbesar, tapi ia terus tumbuh dan menarik," pungkasnya. Timnas AS sendiri akan menghadapi Bosnia di babak 32 besar di San Francisco pada Rabu (1/7). Pertanyaan besarnya: akankah generasi emas 2026 mampu menyamai—atau melampaui—prestasi tim 1994 yang lolos ke babak gugur?



