Jerman Tersingkir di Piala Dunia 2026: Krisis Identitas Tim Panser Kian Dalam
Baca dalam 60 detik
- Kekalahan dari Paraguay di babak 32 besar menjadi kegagalan ketiga Jerman dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir, memicu introspeksi total di internal tim.
- Kapten Joshua Kimmich dan gelandang Kai Havertz secara terbuka menyalahkan para pemain, bukan pelatih, atas performa buruk yang dinilai kurang berkualitas dan mudah ditebak.
- Pelatih Julian Nagelsmann mendapat dukungan penuh dari skuad, namun tekanan publik dan tradisi sepak bola Jerman yang sarat prestasi membuat masa depannya tetap dipertanyakan.

Kekalahan Jerman dari Paraguay di babak 32 besar Piala Dunia 2026 bukan sekadar kegagalan biasa—ini adalah pukulan telak yang kembali mengungkap kerapuhan struktural tim yang dulu disegani. Untuk ketiga kalinya secara beruntun sejak 2018, Die Mannschaft harus angkat koper lebih awal, meninggalkan jejak kekecewaan yang semakin dalam di kalangan pemain, pelatih, dan publik.
Kapten Joshua Kimmich menjadi sosok paling vokal dalam sesi evaluasi pasca-pertandingan. Dengan nada getir, ia mengakui bahwa tim gagal membangkitkan semangat yang dulu menjadi ciri khas Jerman. “Saya tumbuh dengan menyaksikan tim nasional yang selalu melaju ke semifinal, final, bahkan juara dunia. Kini kami tidak mampu memberikan pengalaman itu kepada generasi berikutnya,” ujarnya. Kimmich menegaskan bahwa kegagalan ini murni kesalahan para pemain, bukan faktor eksternal seperti wasit atau adu penalti. “Jika tidak bisa menang dalam 120 menit, Anda pantas tersingkir. Tidak boleh bergantung pada keberuntungan,” tegasnya.
Kai Havertz, yang menyamakan kedudukan menjadi 1-1 sebelum gagal mengeksekusi penalti pertama, juga angkat bicara. “Yang bisa saya lakukan hanyalah meminta maaf. Kami, para pemain, harus bercermin. Jangan libatkan pelatih,” kata penyerang Arsenal itu. Pernyataan ini menegaskan bahwa ruang ganti Jerman tetap solid mendukung Julian Nagelsmann, meski hasil di lapangan jauh dari harapan.
Pelatih Julian Nagelsmann, dalam wawancara dengan ZDF, mengkritik permainan tim yang terlalu lamban dan mudah ditebak. “Kami butuh waktu terlalu lama untuk menggerakkan lawan. Seharusnya laga bisa diselesaikan lebih awal,” katanya. Namun, yang lebih mengganggunya adalah kerapuhan pertahanan. “Paraguay menggunakan taktik sederhana, dan kami tidak mampu bertahan dengan baik. Itu yang membuat saya kesal,” tambahnya. Meski demikian, Nagelsmann sadar bahwa hasil buruk selalu memicu pertanyaan soal masa depannya. “Saya paham bagaimana sepak bola bekerja,” ujarnya dalam konferensi pers.
Bagi Kimmich, kekalahan ini terasa lebih pahit karena ia kini memegang ban kapten. “Tanggung jawab sebagai kapten sangat besar. Saya merasakannya, dan semua pemain di lapangan seharusnya juga. Sayangnya, kami kembali gagal,” ucapnya. Pemain Bayern Munich itu berharap Nagelsmann tetap percaya diri dan melanjutkan proyeknya. “Tidak ada satu pun di ruang ganti yang menyalahkan dia. Kami yang di lapangan harusnya bisa mengalahkan Paraguay,” tegas Kimmich.
Kegagalan beruntun Jerman ini menjadi pengingat bahwa regenerasi tim tidak semudah yang dibayangkan. Tradisi sepak bola Jerman yang dibangun di atas fondasi disiplin, efisiensi, dan mental juara kini dipertanyakan. Dengan kontrak Nagelsmann yang masih panjang, pertanyaan besarnya adalah: mampukah ia membangun kembali tim yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga mampu membangkitkan kembali identitas yang sempat hilang? Atau justru kegagalan ini akan menjadi awal dari perombakan besar-besaran di tubuh federasi?



