Iran Sesalkan Pembatasan Perjalanan AS saat Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, mengecam kebijakan Amerika Serikat yang membatasi pergerakan timnya selama Piala Dunia 2026, termasuk larangan tiba lebih awal di Seattle.
- Pembatasan ini terjadi di tengah ketegangan politik AS-Iran pasca perang empat bulan, dan mempengaruhi kesiapan fisik serta mental pemain.
- Ghalenoei mendesak FIFA untuk mencegah perlakuan serupa terhadap tim lain di turnamen mendatang, sembari menunggu kepastian lolos ke babak gugur.

Pelatih tim nasional Iran, Amir Ghalenoei, melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan pembatasan perjalanan yang diterapkan Amerika Serikat setelah timnya bermain imbang 1-1 melawan Mesir dalam laga terakhir Grup G Piala Dunia 2026 di Seattle, Jumat (26/6). Menurutnya, perlakuan tuan rumah terhadap skuadnya sangat tidak adil dan berdampak langsung pada performa di lapangan.
Iran harus menjalani tiga pertandingan fase grup dengan pola komuter dari Meksiko ke AS, karena izin tinggal mereka dibatasi. Baru pada laga kontra Mesir, pemerintah AS melonggarkan aturan sehingga Iran bisa tiba di kawasan Seattle dua hari lebih awal. Namun, Ghalenoei menilai itu tidak cukup. “Jika tuan rumah mengizinkan kami datang dua minggu sebelumnya untuk persiapan yang lebih matang, kami akan dalam kondisi fisik dan mental yang lebih baik. Mereka merampas keadilan itu dari kami,” ujarnya dalam konferensi pers usai pertandingan.
Pembatasan ini tidak bisa dilepaskan dari ketegangan politik antara Washington dan Teheran yang memanas setelah perang selama hampir empat bulan. Pada Maret lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran tetap boleh berpartisipasi, namun ia menganggap tidak pantas jika mereka menetap di AS di antara pertandingan demi “keselamatan dan keamanan mereka sendiri”. Akibatnya, Iran harus kembali ke Tijuana, Meksiko, setiap usai laga, yang menurut Ghalenoei memperlambat pemulihan pemain.
Di atas lapangan, Iran nyaris memastikan tiket ke babak 16 besar setelah Shoja Khalilzadeh mencetak gol di masa injury time. Namun, wasit menganulir gol tersebut setelah meninjau VAR karena posisi offside. Stadion yang dipenuhi suporter Iran sempat bergemuruh, namun kekecewaan pun tak terhindarkan. “Saya dulu berpikir kami adalah tim yang tertindas, tetapi setelah tiga pertandingan ini, saya sadar kami juga punya nasib buruk,” keluh Ghalenoei. Ia pun mendesak FIFA untuk tidak membiarkan tuan rumah memperlakukan tim peserta dengan cara serupa di Piala Dunia mendatang.
Bagi Indonesia, kisah Iran ini menjadi pengingat betapa politik dan birokrasi bisa memengaruhi even olahraga global. Meski Piala Dunia 2026 digelar di tiga negara—AS, Meksiko, dan Kanada—pembatasan visa dan pergerakan tim bisa menjadi kendala serius, terutama bagi negara-negara yang memiliki hubungan tegang dengan AS. Ke depan, FIFA mungkin perlu meninjau ulang jaminan akses bagi seluruh peserta agar kompetisi berjalan adil.
Saat ini, Iran masih menunggu hasil laga lain untuk menentukan apakah mereka lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya. Ghalenoei berjanji akan memberi pemainnya waktu pemulihan yang layak jika berhasil melaju. “Jika Tuhan mengizinkan kami maju, saya akan memberi mereka satu hari untuk pemulihan yang benar, mungkin pergi ke pantai untuk relaksasi mental,” katanya. Pertanyaan besarnya: akankah FIFA bertindak agar ketidakadilan serupa tidak terulang di turnamen-turnamen mendatang?



