Direktur Inter Akui Kegagalan Rekrut Pemain Muda Akibat Keterbatasan Anggaran
Baca dalam 60 detik
- Inter Milan gagal mengamankan tanda tangan Marco Palestra karena kalah bersaing secara finansial dengan Chelsea.
- Direktur Inter, Piero Ausilio, mengakui keterlambatan respons dari pemilik Oaktree turut memengaruhi kegagalan transfer tersebut.
- Ausilio juga menyesali kehilangan Sandro Tonali ke AC Milan pada 2020, yang kemudian dijual dengan harga tinggi ke Newcastle.

Direktur Olahraga Inter Milan, Piero Ausilio, secara blak-blakan mengakui bahwa timnya mengalami 'penolakan' dalam upaya merekrut pemain muda Atalanta, Marco Palestra, yang akhirnya memilih bergabung dengan Chelsea. Dalam sebuah acara di Rimini yang menandai dimulainya bursa transfer Serie A, Ausilio mengungkapkan bahwa faktor finansial menjadi penghalang utama, dengan Chelsea mampu menawarkan gaji dua kali lipat dan biaya transfer lebih tinggi hingga โฌ10 juta.
Ausilio menyebut pengalaman ini sebagai penolakan yang paling menyakitkan sejak masa sekolah. "Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi kemampuan maksimal kami masih kurang dari setengah yang bisa diberikan klub lain. Ini penolakan yang harus kami terima," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan kesenjangan daya saing Inter di bursa transfer, terutama ketika berhadapan dengan klub kaya seperti Chelsea.
Kegagalan mendapatkan Palestra juga dikaitkan dengan lambatnya respons dari pemilik Inter, Oaktree Capital Management, yang berbasis di Amerika Serikat. Ausilio mengisyaratkan bahwa jarak geografis dan komunikasi yang kurang lancar menjadi kendala. "Kadang kami berhasil menyampaikan ide dengan baik, kadang tidak. Kehadiran Marotta sebagai penghubung antara sisi olahraga dan manajemen sangat penting," katanya. Situasi ini menyoroti tantangan yang dihadapi klub dengan kepemilikan asing yang tidak terlibat langsung dalam operasional sehari-hari.
Yang menarik, Ausilio justru mengaku lebih menyesali kegagalan merekrut Sandro Tonali saat masih di Brescia ketimbang kasus Palestra. "Dalam situasi itu, saya ketiduran," katanya jujur. Tonali akhirnya bergabung dengan AC Milan pada musim panas 2020 dan tiga tahun kemudian dijual ke Newcastle United dengan nilai lebih dari โฌ60 juta. Pengakuan ini menunjukkan bahwa Inter kehilangan kesempatan emas untuk mendapatkan pemain berkualitas dengan harga yang relatif terjangkau.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran tentang pentingnya kecepatan pengambilan keputusan dan fleksibilitas finansial dalam bursa transfer. Klub-klub Indonesia yang sering berhadapan dengan klub asing dengan kekuatan finansial lebih besar juga menghadapi dilema serupa. Kegagalan Inter mengamankan pemain muda potensial akibat keterbatasan dana dan birokrasi kepemilikan asing bisa menjadi cermin bagi klub-klub di Tanah Air yang tengah berbenah.
Ke depan, Inter Milan harus mencari cara untuk mempercepat proses pengambilan keputusan dan meningkatkan komunikasi dengan pemilik. Apakah Oaktree akan mengubah pendekatan mereka setelah kegagalan ini? Ataukah Inter akan terus tertinggal dalam perburuan talenta muda? Pertanyaan ini menjadi krusial bagi ambisi klub untuk kembali bersaing di level tertinggi.



