Son Heung-min Minta Maaf Usai Korea Selatan Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Kapten timnas Korea Selatan, Son Heung-min, menyampaikan permintaan maaf kepada publik dan penggemar sepak bola setelah timnya gagal lolos dari fase grup Piala Dunia 2026.
- Kekalahan 1-0 dari Afrika Selatan di laga pamungkas memastikan Korea Selatan finis di posisi ketiga Grup A, meskipun hanya membutuhkan hasil imbang untuk melaju.
- Pelatih Hong Myung-bo mengundurkan diri dan Presiden Lee Jae Myung memerintahkan investigasi atas performa tim, sementara Son berjanji akan berjuang habis-habisan untuk mengembalikan kepercayaan.

Kapten tim nasional Korea Selatan, Son Heung-min, secara terbuka meminta maaf kepada publik dan penggemar sepak bola setelah timnya gagal melaju ke babak gugur Piala Dunia 2026. Dalam pernyataan emosional yang diunggah melalui Instagram, Selasa (10/6), pemain berusia 33 tahun itu mengaku sangat terpukul dan memohon dukungan moral ketimbang kritik pedas bagi para pemain.
Korea Selatan sebenarnya memulai turnamen dengan gemilang setelah mengalahkan Meksiko di laga perdana. Namun, dua kekalahan beruntun—termasuk kekalahan 1-0 dari Afrika Selatan di pertandingan terakhir—membuat mereka finis di peringkat ketiga Grup A. Padahal, hasil imbang saja sudah cukup untuk mengamankan tiket ke fase knockout. Kekalahan tersebut membuat Korea Selatan gagal menjadi salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik yang berhak lolos.
Son, yang merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang masa timnas dengan 56 gol, bahkan dicadangkan pada laga krusial melawan Afrika Selatan. Ia baru dimasukkan pada babak kedua, tetapi tak mampu memecah kebuntuan. Ini menjadi kegagalan keempat Son dalam menembus fase gugur Piala Dunia—sejak debutnya pada 2014, Korea Selatan hanya sekali lolos ke 16 besar, yakni pada 2022 saat dikalahkan Brasil 4-1.
Kekalahan ini memicu krisis di sepak bola Korea Selatan. Pelatih Hong Myung-bo langsung mengajukan pengunduran diri pada Minggu (8/6), sementara Presiden Lee Jae Myung memerintahkan investigasi menyeluruh terhadap performa tim. Langkah ini menunjukkan betapa seriusnya pemerintah menanggapi kegagalan di ajang sebesar Piala Dunia, terutama setelah ekspektasi tinggi dari publik.
Dalam unggahannya, Son mengaku sulit menerima kenyataan pahit ini. “Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Saya tidak bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa, dan saya tidak ingin lari dari kenyataan,” tulisnya. Ia juga menyebut bahwa “mimpi masa kecil” yang selalu dibicarakannya telah runtuh. Meski demikian, Son berjanji akan terus berjuang demi mengembalikan kepercayaan penggemar. “Saya akan lari sampai mati untuk memberikan kebahagiaan lagi kepada kalian,” ujarnya.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kegagalan Korea Selatan menjadi pengingat betapa tipisnya margin antara sukses dan gagal di Piala Dunia. Timnas Indonesia sendiri masih berjuang untuk bisa tampil di turnamen akbar ini, dan kasus Korea Selatan menunjukkan bahwa persiapan matang serta mental juara sangat menentukan. Selain itu, permintaan maaf Son yang diiringi permohonan dukungan ketimbang kritik bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya menjaga semangat tim di tengah tekanan.
Ke depan, sepak bola Korea Selatan menghadapi masa transisi. Dengan mundurnya pelatih Hong dan investigasi yang berlangsung, regenerasi pemain dan perubahan strategi menjadi keniscayaan. Son, yang kini berusia 33 tahun, mungkin tidak akan tampil di Piala Dunia berikutnya. Pertanyaan besarnya: mampukah Korea Selatan bangkit dari keterpurukan ini dan kembali bersaing di level tertinggi sepak bola Asia?



