Panama Bukan Tim Lemah Lagi: Ancaman Taktis yang Wajib Diwaspadai Inggris
Baca dalam 60 detik
- Panama menunjukkan peningkatan signifikan dibanding edisi 2018, dengan kemampuan bertahan fleksibel dan serangan balik cepat.
- Tanpa gelandang bintang Adalberto Carrasquilla, Panama kesulitan memaksimalkan peluang, namun tetap berbahaya jika Inggris lengah.
- Inggris disarankan memanfaatkan lebar lapangan dan umpan terobosan untuk membongkar pertahanan Panama yang cenderung rapat di tengah.

Tim nasional Panama yang akan dihadapi Inggris pada laga pamungkas Grup D Piala Dunia 2026 bukanlah lawan yang bisa dianggap enteng. Meski secara peringkat berada di urutan ke-42 dunia, penampilan mereka melawan Ghana dan Kroasia menunjukkan bahwa skuad asuhan Thomas Christiansen memiliki kualitas yang jauh lebih baik ketimbang tim yang dihancurkan Inggris 6-1 pada 2018.
Dalam dua pertandingan awal, Panama memperlihatkan fleksibilitas taktis yang mengesankan. Saat menghadapi penguasaan bola lawan, mereka bertransisi dari formasi 4-4-2 menjadi 5-3-2 atau bahkan 5-4-1. Pendekatan ini membuat mereka sulit ditembus dari tengah, namun meninggalkan celah di sisi sayap. Kelemahan inilah yang coba dieksploitasi Kroasia saat mencetak gol lewat serangan dari lebar lapangan.
Pelatih Inggris, Thomas Tuchel, dikenal gemar memanfaatkan ruang di sisi sayap. Melawan Ghana, ia kerap menginstruksikan bek kanan Djed Spence untuk melebar dan bekerja sama dengan Anthony Gordon. Pola serupa berhasil dilakukan Kroasia melawan Panama. Jika Inggris mampu mengulanginya, bukan tidak mungkin mereka akan mencetak gol cepat.
Namun, Panama bukan tanpa senjata. Saat menguasai bola, mereka mampu membangun serangan dari bawah dengan kombinasi pendek yang rapi. Gelandang Cristian Martinez menjadi figur sentral dalam skema ini. Setelah melewati tekanan awal, mereka cepat melebarkan permainan ke sayap dan melepaskan umpan silang. Masalah utama mereka adalah penyelesaian akhir yang kurang tajam โ sebuah kelemahan yang bisa menjadi peluang bagi Inggris jika mampu mempertahankan konsentrasi penuh.
Bagi Indonesia, laga ini menarik untuk dicermati karena menunjukkan bagaimana tim non-unggulan bisa berkembang dengan pendekatan taktis yang matang. Pelatih asal Denmark, Thomas Christiansen, yang pernah menangani Leeds United, berhasil membangun identitas permainan yang jelas. Ini menjadi contoh bahwa dengan perencanaan yang baik, tim berperingkat rendah pun bisa merepotkan raksasa sepak bola.
Pertanyaan besarnya: akankah Panama mengadopsi strategi Ghana yang sukses meredam Inggris dengan pertahanan rapat dan pressing rendah? Atau mereka akan tetap bermain terbuka seperti saat melawan Kroasia? Keputusan Christiansen akan sangat menentukan apakah Inggris bisa lolos dengan nyaman sebagai juara grup atau justru harus bekerja keras hingga menit akhir.



