Ancelotti Incar Rekor Baru di Piala Dunia 2026: Pelatih Italia Pertama yang Bisa Juara Bersama Negara Asing
Baca dalam 60 detik
- Carlo Ancelotti menjadi satu-satunya pelatih yang pernah menjuarai liga di lima negara Eropa top dan lima trofi Liga Champions.
- Ia kini menukangi Brasil di Piala Dunia 2026, berpeluang menjadi pelatih Italia pertama yang membawa negara asing juara.
- Brasil lolos ke fase gugur sebagai juara grup setelah tak terkalahkan, dengan Vinicius Junior mencetak empat gol.

Carlo Ancelotti, pelatih dengan segudang gelar di level klub, kini membidik rekor baru di Piala Dunia 2026: menjadi arsitek Italia pertama yang mengantarkan tim nasional negara lain meraih trofi paling bergengsi di sepak bola. Pria 67 tahun itu memegang kendali tim Brasil, yang sudah memastikan diri melaju ke babak gugur setelah memuncaki Grup C dengan dua kemenangan dan satu hasil imbang.
Ancelotti tak asing dengan catatan prestasi. Ia adalah satu-satunya pelatih dalam sejarah yang berhasil menjuarai liga domestik di lima liga elite Eropa—Inggris, Prancis, Spanyol, Jerman, dan Italia—serta lima kali mengangkat trofi Liga Champions. Namun, di pentas Piala Dunia, ia baru pertama kali duduk sebagai kepala pelatih. Sebelumnya, ia hanya menjadi asisten Arrigo Sacchi di timnas Italia pada 1994, saat Gli Azzurri kalah adu penalti dari Brasil di final.
Kini, giliran Brasil yang menjadi tanggung jawabnya. Ancelotti bertekad mengembalikan trofi Piala Dunia ke Rio de Janeiro untuk pertama kalinya sejak 2002. Jika berhasil, ia akan mencatatkan namanya sebagai pelatih Italia pertama yang memenangkan Piala Dunia bersama tim asing—sebuah prestasi yang belum pernah diraih pendahulunya seperti Fabio Capello atau Giovanni Trapattoni.
Sejauh ini, performa Brasil di turnamen dinilai memuaskan. Setelah menang 3-0 atas Skotlandia pada laga penutup grup, Ancelotti memuji perkembangan timnya. “Kami bermain sebagai tim, itu tujuannya. Kami belum sempurna, masih ada yang perlu diperbaiki,” ujarnya. “Kami bisa lebih cepat saat menguasai bola. Saya senang karena tim banyak berkembang, kini kami solid. Di fase gugur, soliditas sangat penting. Dibanding laga pertama, kami lebih sedikit melakukan kesalahan, ritme lebih baik, dan lebih efektif di depan.”
Salah satu motor serangan Brasil adalah Vinicius Junior, yang sudah mengoleksi empat gol. Ancelotti, yang pernah melatihnya di Real Madrid, tak ragu memujinya. “Sungguh memuaskan melihat Vini bersinar karena saya tak pernah ragu dengan kemampuannya di Piala Dunia ini. Baginya, bermain untuk tim nasional adalah suatu kehormatan. Ia tampil sangat baik, bahkan mencetak gol dengan sundulan, yang jarang terjadi. Saya bukan orang yang menemukan Vini. Bagi saya, ia kelas dunia, salah satu yang terbaik.”
Kesuksesan Ancelotti bersama Brasil tentu menarik perhatian publik Indonesia, yang selama ini mengidolakan sepak bola Brasil. Banyak penggemar tanah air yang menantikan aksi Samba di fase gugur, dan kehadiran pelatih Italia justru menambah dimensi taktik yang menarik. Jika Brasil mampu melaju jauh, hal itu bisa menjadi inspirasi bagi pelatih-pelatih asing yang menangani tim nasional di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Pertanyaan besarnya: mampukah Ancelotti memecahkan rekor sebagai pelatih Italia pertama yang juara Piala Dunia bersama negara lain? Atau justru Brasil akan kembali kandas seperti pada 2014 dan 2018? Fase gugur akan menjadi ujian sesungguhnya bagi soliditas yang ia bangun.



