Kylian Mbappe dan Mesin Gol Prancis Siap Membongkar Pertahanan Swedia
Baca dalam 60 detik
- Prancis melaju mulus ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 dengan rekor sempurna dan 10 gol dari tiga laga grup.
- Pelatih Didier Deschamps masih merombak sisi kiri pertahanan dan lini serang untuk menghadapi Swedia yang diyakini akan bermain bertahan.
- Gary Lineker menilai daya gedor Prancis terlalu berat bagi Swedia meski tim Skandinavia itu memiliki beberapa pemain berbahaya.

Kylian Mbappe dan lini depan Prancis yang mematikan menjadi momok bagi Swedia pada laga babak 32 besar Piala Dunia 2026, Selasa (30/6) waktu setempat. Meski begitu, pelatih Didier Deschamps masih memiliki pekerjaan rumah di sisi kiri timnya yang belum sepenuhnya solid.
Prancis menyapu bersih fase grup dengan tiga kemenangan, mencetak 10 gol dan hanya kebobolan dua kali. Trio Mbappe, Ousmane Dembele, dan Michael Olise menjadi pusat serangan paling ditakuti turnamen ini. Namun, sektor kiri menjadi titik lemah yang coba diperbaiki Deschamps. Bek kiri Theo Hernandez dinilai belum tampil meyakinkan, sehingga Lucas Digne kemungkinan besar akan diturunkan untuk memberikan keamanan defensif dan umpan silang yang lebih akurat.
Di lini depan, Bradley Barcola diproyeksikan menggantikan Desire Doue di sayap kiri. Deschamps menginginkan kecepatan transisi dan lebar alami yang lebih baik, berbeda dengan poros Olise-Mbappe-Dembele yang cenderung bergerak ke dalam. Penyesuaian ini diharapkan membuat serangan Prancis lebih seimbang, terutama menghadapi Swedia yang diprediksi akan bertahan rapat dan mengandalkan bola mati serta serangan balik cepat.
Masalah lain yang mengemuka adalah pertahanan Prancis yang kadang lengah. Kembalinya William Saliba di lini belakang diharapkan membawa stabilitas. Meski begitu, setiap lawan menghadapi dilema yang sama: sebanyak apa pun gol yang mereka cetak, Les Bleus selalu mampu mencetak satu gol lebih banyak.
Swedia bukan lawan yang bisa dianggap remeh. Mereka memiliki fisik kuat dan organisasi permainan yang rapi. Alexander Isak, Viktor Gyokeres, dan Anthony Elanga menjadi ancaman di lini depan. Namun, legenda Inggris Gary Lineker menilai daya gedor Prancis terlalu berat bagi Swedia. "Saya tidak percaya Swedia bisa mengimbangi. Mereka bukan tim jelek, tapi kekuatan tembak Prancis jauh di atas," ujar Lineker kepada L'Equipe. Ia juga mengingatkan bahwa Prancis bisa rentan terhadap serangan balik jika terlalu ofensif, seperti yang terlihat saat melawan Norwegia.
Bagi Indonesia, pertandingan ini menjadi tontonan menarik untuk melihat bagaimana tim-tim besar beradaptasi di babak gugur. Pelajaran tentang pentingnya keseimbangan antara serangan dan pertahanan bisa menjadi referensi bagi pengembangan sepak bola nasional. Selain itu, performa pemain seperti Mbappe dan Olise bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia.
Jika menang, Prancis akan berhadapan dengan Jerman atau Paraguay di babak 16 besar. Pertanyaan besarnya: mampukah Swedia memanfaatkan celah di pertahanan Prancis, atau akankah mesin gol Les Bleus kembali berbicara?



