Bellingham Jadi Kunci Taktik Tuchel di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Jude Bellingham menjadi poros utama skema Thomas Tuchel bersama Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, berkat kemampuan adaptasi taktiknya yang luar biasa.
- Dalam laga melawan Panama, Bellingham menjalankan peran ganda: sebagai gelandang box-to-box di babak pertama dan sebagai penyerang lubang nomor 10 di babak kedua, yang menghasilkan assist untuk gol kemenangan.
- Fleksibilitas Bellingham memungkinkan Inggris mengatasi cedera pemain kunci dan menerapkan variasi serangan tengah, sebuah dimensi baru yang sebelumnya jarang digunakan.

Jude Bellingham telah menjelma sebagai elemen paling vital dalam skema permainan Thomas Tuchel bersama Timnas Inggris di Piala Dunia 2026. Pemain berusia 22 tahun itu tidak hanya menjadi bintang lapangan, tetapi juga solusi taktik yang menyelamatkan Inggris dari kebuntuan, terutama saat menghadapi Panama dalam laga penyisihan grup.
Dalam kemenangan 2-0 Inggris atas Panama, Bellingham menunjukkan fleksibilitas luar biasa. Di babak pertama, ia ditempatkan sebagai gelandang box-to-box menggantikan Declan Rice yang absen. Tugasnya adalah membantu Elliot Anderson di lini tengah dan menjaga keseimbangan tim. Namun, setelah turun minum, perannya berubah drastis menjadi gelandang serang nomor 10, yang langsung berdampak pada terciptanya dua gol kemenangan.
Perubahan peran ini bukan tanpa alasan. Tuchel, yang dikenal dengan pendekatan taktik disiplin, mengakui bahwa cedera Reece James dan performa kurang maksimal para pemain sayap memaksanya mencari dimensi baru. "Kami ingin memiliki enam pemain di lini terakhir," ujar Tuchel seusai pertandingan, merujuk pada upaya Inggris untuk mengungguli pertahanan lima pemain Panama. Bellingham, dengan kecerdasan taktiknya, menjadi eksekutor utama skema tersebut.
Asisten pelatih Anthony Barry mengungkapkan bahwa tim sempat kehilangan kendali di 30 menit pertama karena terlalu bernafsu menyerang. "Kami terlalu banyak kehilangan bola di tengah dan itu membuka peluang serangan balik," kata Barry. Namun, Bellingham menjadi "pemadam kebakaran" dengan lari recovery panjang dan tekel sliding yang sempurna untuk menghentikan serangan cepat Panama. Fisiknya yang prima, berkat menit bermain lebih sedikit dibanding rekan-rekannya di Premier League, menjadi modal berharga.
Di babak kedua, Bellingham menunjukkan naluri ofensifnya. Ia memanfaatkan ruang yang diciptakan oleh pergerakan Marcus Rashford yang turun dalam untuk menarik bek sayap Panama. Dengan posisi lebih tinggi, Bellingham mampu melakukan lari diagonal ke belakang pertahanan, menciptakan kekacauan dan akhirnya memenangkan tendangan sudut serta memberikan assist untuk Kane. Tuchel memuji kelengkapan permainan Bellingham, yang dinilai mampu meminimalkan ketidakpastian dalam sistem yang sarat risiko.
Bagi Indonesia, performa Bellingham menjadi contoh bagaimana seorang pemain muda bisa menjadi solusi taktik di turnamen besar. Di tengah gempuran pemain bintang lain, fleksibilitas dan kecerdasan bermain justru menjadi pembeda. Ini juga menjadi pelajaran bagi pengembangan sepak bola nasional: pentingnya melatih pemain serba bisa yang mampu beradaptasi dengan berbagai peran.
Ke depan, Inggris akan menghadapi lawan-lawan tangguh di babak gugur. Pertanyaan besarnya, mampukah Bellingham mempertahankan performa ini dan membawa Inggris melaju hingga final? Dengan sistem Tuchel yang mulai "berdengung", jawabannya mungkin akan bergantung pada seberapa jauh Bellingham bisa terus menjadi "kunci" yang membuka semua pintu.



