Ancelotti Kembali Beraksi: Brasil Selamat dari Malapetaka Lewat Gol Penalti Martinelli
Baca dalam 60 detik
- Brasil nyaris tersingkir lebih awal dari Piala Dunia setelah tertinggal dari Jepang di babak pertama, namun bangkit di babak kedua.
- Pelatih Carlo Ancelotti melakukan penyesuaian taktik sederhana namun efektif dengan meningkatkan umpan silang, yang berbuah gol penyeimbang Casemiro.
- Gol kemenangan di menit akhir memastikan Brasil lolos ke babak 16 besar, menjaga asa gelar juara dunia keenam.

Gol dramatis Gabriel Martinelli pada menit ke-95 menyelamatkan Brasil dari kekalahan memalukan sekaligus memastikan tiket ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Jepang 2-1 di Houston, Kamis (25/6) waktu setempat. Kemenangan ini sekaligus memutus catatan buruk Brasil yang tidak pernah menang dalam laga knockout setelah tertinggal sejak 2002.
Babak pertama menjadi mimpi buruk bagi skuad asuhan Carlo Ancelotti. Jepang tampil disiplin dan berhasil unggul lebih dulu melalui serangan balik cepat. Brasil kesulitan menembus pertahanan rapat lawan, hanya melepaskan 12 umpan silang dengan permainan pendek yang mudah dibaca. Jika kekalahan terjadi, Brasil akan mencatatkan eliminasi tercepat sejak 1966—sebuah aib besar bagi negara yang menganggap sepak bola sebagai harga diri.
Namun, Ancelotti yang dikenal tenang di saat krisis tidak panik. Satu-satunya pergantian paksa di babak pertama adalah Endrick menggantikan Lucas Paqueta yang cedera. Strategi ia pertahankan, tetapi instruksi taktis di ruang ganti mengubah segalanya. "Terkadang kemampuan terbesar Ancelotti adalah tidak melakukan apa-apa. Ia bagai oase ketenangan di tengah kekacauan," ujar pengamat sepak bola Amerika Selatan, Tim Vickery.
Di babak kedua, Brasil mengubah pendekatan. Mereka melupakan permainan pendek dan langsung mengirimkan 28 umpan silang ke kotak penalti—rata-rata satu umpan setiap dua menit. Gol penyeimbang Casemiro lahir dari pola ini: umpan silang dari sayap kanan disundul pemain yang datang dari sisi buta pertahanan Jepang. Mantan bek Inggris Stephen Warnock menilai perubahan itu menjadi kunci. "Jepang tidak mampu menghadapi bola-bola lambung ke kotak penalti," katanya.
Kemenangan ini menjadi bukti lain bahwa Ancelotti adalah pelatih yang piawai membaca pertandingan. Sebagai pelatih asing pertama Brasil di Piala Dunia, ia telah memenangi sembilan dari 15 laga perdananya. Namun, tantangan masih panjang. Di babak 16 besar, Brasil akan berhadapan dengan Pantai Gading atau Norwegia—lawan yang tidak bisa dianggap remeh.
Bagi Indonesia, laga ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya adaptasi taktik dan ketenangan pelatih di momen kritis. Timnas Indonesia yang kerap menghadapi tekanan besar di turnamen regional bisa meniru pendekatan Ancelotti: tidak perlu mengubah total strategi, cukup penyesuaian kecil yang tepat sasaran. Apalagi, gaya bermain Brasil yang mengandalkan umpan silang terbukti efektif melawan pertahanan rapat—pelajaran yang bisa diterapkan saat menghadapi tim-tim Asia yang disiplin.
Ancelotti sendiri menolak menganggap kemenangan ini sebagai sesuatu yang istimewa. "Satu-satunya hasil yang bisa diterima adalah kemenangan. Apakah gaya bermain cukup? Kami tidak akan pernah puas," ujarnya. Mantan striker Celtic Chris Sutton menambahkan, "Mereka sedang membangun sesuatu di bawah Ancelotti. Carlo yang licik berhasil lagi. Itulah yang ia lakukan."
Pertanyaan selanjutnya: akankah Brasil mampu mempertahankan momentum ini dan akhirnya mengangkat trofi keenam? Ataukah ini hanya sekadar penundaan dari kegagalan yang lebih besar? Babak 16 besar akan menjadi ujian sesungguhnya.



