Piala Dunia 2026: Brasil vs Jepang, Ancelotti Uji Taji di Babak 32 Besar
Baca dalam 60 detik
- Brasil dan Jepang bertemu di babak 32 besar Piala Dunia 2026, dengan pemenang berhak melawan Norwegia atau Pantai Gading di 16 besar.
- Carlo Ancelotti memimpin Brasil untuk pertama kalinya di turnamen besar, membawa skuad bertabur mantan pemain Serie A seperti Alisson, Danilo, dan Paqueta.
- Jepang yang tak terkalahkan di fase grup mengandalkan kiper Zion Suzuki yang bersinar, sementara Brasil kehilangan Raphinha dan Wesley Franca karena cedera.

Brasil dan Jepang akan saling sikut di babak 32 besar Piala Dunia 2026, laga yang mempertemukan ambisi tim raksasa dengan kejutan tim Asia. Pertandingan di Houston, Amerika Serikat, pada Sabtu (28/6) pukul 18.00 waktu setempat, menjadi ujian perdana bagi Carlo Ancelotti sebagai arsitek tim nasional Brasil di turnamen akbar.
Ancelotti, pelatih asal Italia yang baru pertama kali menangani tim nasional, langsung dihadapkan pada ekspektasi tinggi. Brasil adalah negara dengan gelar juara dunia terbanyak—lima kali—dan publik menginginkan trofi kembali ke tangannya. Sejauh ini, Brasil melaju mulus: hanya imbang 1-1 melawan Maroko, lalu menekuk Haiti dan Skotlandia masing-masing 3-0. Namun, cedera menghantam: Raphinha dan Wesley Franca dipastikan absen, memaksa Ancelotti mengandalkan Vinicius Junior dan Rayan sebagai pendukung striker Cunha.
Di sisi lain, Jepang datang dengan modal tak terkalahkan di fase grup. Mereka menghancurkan Tunisia 4-0, ditambah hasil imbang 2-2 melawan Belanda dan 1-1 kontra Swedia. Kiper Parma, Zion Suzuki, menjadi sorotan berkat penampilan gemilangnya yang memicu minat transfer klub-klub besar. Namun, Jepang kehilangan bek Ko Itakura karena cedera, dan harus mengandalkan lini belakang yang diperkuat Takehiro Tomiyasu serta veteran Inter Milan, Yuto Nagatomo.
Laga ini juga sarat nuansa Serie A. Dari kubu Brasil, ada Alisson (Roma), Danilo (Juventus), Marquinhos (Roma), dan Lucas Paqueta (Milan). Gelandang Atalanta, Ederson, hanya duduk di bangku cadangan. Jepang membawa mantan pemain Lazio, Daichi Kamada, serta eks Bologna, Takehiro Tomiyasu. Kehadiran mereka menambah bumbu persaingan antarpemain yang pernah berlaga di Italia.
Bagi Indonesia, pertandingan ini menarik karena menunjukkan bagaimana tim Asia seperti Jepang mampu bersaing dengan raksasa dunia. Jepang membuktikan bahwa disiplin taktik dan organisasi permainan bisa menandingi individu brilian Brasil. Pelajaran ini relevan bagi sepak bola Indonesia yang tengah membangun tim nasional lebih kompetitif. Jika Jepang bisa merepotkan Brasil, bukan tidak mungkin Indonesia kelak bisa meniru pola pengembangan mereka.
Pemenang laga ini akan berhadapan dengan Norwegia atau Pantai Gading di babak 16 besar pada 5 Juli. Brasil di atas kertas lebih diunggulkan, namun Jepang telah menunjukkan ketangguhan. Pertanyaan besarnya: mampukah Ancelotti mengelola tekanan dan membawa Brasil melaju, atau Jepang akan menuliskan sejarah baru dengan menjungkalkan tim samba?



