Pembatalan Tiket Piala Dunia di StubHub: Praktik Spekulasi dan Dampaknya bagi Penggemar
Baca dalam 60 detik
- Dozens of World Cup fans faced last-minute ticket cancellations on StubHub due to speculative selling, leaving them without entry despite guarantees.
- StubHub's policy prohibits speculative ticketing, but the practice persists as sellers list tickets they don't yet own, hoping to profit.
- The controversy could damage StubHub's brand reputation and has sparked calls for a ban on 'ghost tickets' in the US.

Pembatalan tiket di menit-menit terakhir oleh platform penjualan ulang StubHub telah membuat puluhan penggemar Piala Dunia 2026 kecewa berat, setelah mereka harus pulang tanpa menyaksikan pertandingan yang sudah direncanakan berbulan-bulan. Insiden ini menyoroti praktik spekulatif yang merugikan konsumen dan memicu pertanyaan tentang perlindungan pembeli di pasar tiket sekunder.
Jeremy Wright, seorang penggemar asal Austin, Texas, membeli dua tiket untuk pertandingan Belanda vs Jepang pada 14 Juni melalui StubHub sebagai hadiah Natal untuk istrinya. Setelah perjalanan jauh ke Dallas, ia menerima email dari StubHub hanya lima jam sebelum pertandingan yang menyatakan tiketnya tidak dapat dikirim. Meskipun dijanjikan tiket pengganti melalui jaminan "FanProtect", satu-satunya opsi yang diberikan adalah pengembalian dana. Setelah berjam-jam menunggu bantuan, Wright dan istrinya memutuskan kembali ke Austin dalam hujan tanpa menyaksikan pertandingan.
Kisah serupa dialami Dacy Gillespie, seorang penulis dan stylist pribadi, yang membeli empat tiket untuk Argentina vs Aljazair sebagai kejutan Natal untuk kedua putranya. Setelah menempuh perjalanan 400 kilometer dari St. Louis ke Kansas City, ia mendapat kabar bahwa penjual tidak dapat menyerahkan tiket. Gillespie akhirnya membeli tiket pengganti dengan biaya sendiri, dan StubHub baru memberikan kompensasi sebagian setelah keluhannya viral di media sosial.
Scott Friedman, pakar tiket yang pernah bekerja dengan Cleveland Cavaliers dan kini menjalankan Ticket Talk Network, menjelaskan bahwa akar masalahnya adalah praktik 'speculative ticketing'. Penjual mencantumkan tiket yang belum mereka miliki, berharap bisa membelinya dengan harga lebih rendah nanti untuk meraih untung. Namun, tidak seperti acara olahraga lain yang harga tiketnya cenderung turun mendekati hari pertandingan, harga tiket Piala Dunia justru melonjak, membuat spekulan tidak mampu memenuhi pesanan tanpa merugi.
StubHub membantah tuduhan praktik spekulatif dan menyatakan bahwa pihaknya mewajibkan penjual untuk mengunggah tiket atau bukti pembelian saat mencantumkan tiket. Pelanggar akan dikenai sanksi finansial dan pembekuan akun. Namun, Friedman mencatat bahwa StubHub tidak mewajibkan penjual mencantumkan nomor kursi, sehingga 'ghost tickets' tetap marak. StubHub juga mengklaim bahwa infrastruktur tiket FIFA memengaruhi transfer tiket di semua platform penjualan ulang, tetapi FIFA dengan tegas membantah hal tersebut.
Bagi penggemar di Indonesia, insiden ini menjadi pengingat pentingnya membeli tiket dari sumber resmi, terutama untuk ajang besar seperti Piala Dunia. Meskipun platform resmi FIFA mungkin lebih mahal, jaminan keamanan dan pengiriman tiket lebih terjamin. Praktik spekulatif yang merugikan konsumen juga bisa menjadi pelajaran bagi regulator di Indonesia untuk memperketat pengawasan terhadap penjualan tiket sekunder, khususnya untuk konser dan pertandingan olahraga besar.
Marsha-Gaye Knight, asisten profesor klinis di NYU Tisch Institute for Global Sport, memperingatkan bahwa masalah ini dapat merusak reputasi StubHub dalam jangka panjang. "Dari perspektif merek, ini bisa menjadi mimpi buruk bagi mereka," ujarnya. Sementara itu, National Independent Venue Association dan Fan Alliance telah mendesak Ketua DPR AS Mike Johnson untuk melarang penjualan 'ghost tickets' di platform penjualan ulang. Pertanyaannya, apakah tekanan publik dan regulasi yang lebih ketat akan cukup untuk menghentikan praktik spekulatif yang sudah mengakar ini?



