Haaland Siap Bicara di Panggung Piala Dunia: Mesin Gol Norwegia yang Haus Prestasi
Baca dalam 60 detik
- Erling Haaland telah mencetak 59 gol dalam 52 penampilan internasional, rekor langka yang melampaui jumlah caps.
- Di Piala Dunia 2026, ia menjadi pemain keenam yang mencetak lebih dari satu gol di dua laga perdana turnamen.
- Pelatih Stale Solbakken menyimpan Haaland di laga kontra Prancis demi menjaga kebugarannya jelang babak gugur.

Erling Haaland, mesin gol Norwegia yang haus prestasi, siap kembali menjadi sorotan saat timnya menghadapi Pantai Gading di babak 32 besar Piala Dunia 2026, Selasa (30/6) di Dallas Stadium. Striker Manchester City itu telah mencetak 59 gol dalam 52 penampilan internasional—rekor langka yang melampaui jumlah caps—dan kini menjadi tumpuan utama Norwegia untuk melaju lebih jauh.
Pada laga pamungkas Grup I melawan Prancis, pelatih Stale Solbakken memutuskan untuk tidak memainkan Haaland. Keputusan itu diambil demi menjaga kebugaran sang bintang setelah Norwegia sudah memastikan tiket ke babak gugur. Tanpa Haaland, Norwegia kalah 1-4 dan finis sebagai runner-up grup. “Tidak masuk akal memainkannya dan mengambil risiko cedera,” ujar Solbakken. “Saya 100 persen mendukung keputusan itu.”
Haaland sendiri sudah mencetak empat gol di Piala Dunia 2026, termasuk dua brace: saat debut melawan Irak (4-1) dan kemenangan krusial 3-2 atas Senegal yang memastikan langkah Norwegia ke fase knockout. Ia telah mencetak gol di 12 pertandingan kompetitif terakhirnya bersama timnas. Efisiensinya luar biasa: dari sepuluh tembakannya di turnamen ini, semuanya merupakan first-time shots dan tujuh di antaranya tepat sasaran. Rata-rata, ia hanya butuh 10,5 sentuhan untuk satu gol.
“Saya hanya benar-benar jago mencetak gol. Saya tidak tahu apa yang saya lakukan, tapi begitulah adanya,” kata Haaland dengan nada khasnya yang santai. Namun di balik pernyataan itu, ia adalah pemburu gol paling mematikan di generasinya. Mantan pemain timnas Norwegia, Viggo Stromme, menyebut Haaland sebagai “Cristiano Ronaldo berikutnya” karena kekuatan fisik, gaya bermain langsung, dan ambisi tanpa batas.
Haaland juga memiliki ikatan emosional dengan nama belakang ibunya. Sejak Agustus lalu, ia menggunakan nama “Braut Haaland” di kostum timnas, menghormati sang ibu, Gry Marita Braut, seorang atlet heptathlon legendaris Norwegia. Darah olahraga mengalir deras di keluarganya: ayahnya, Alf-Inge Haaland, pernah bermain di Piala Dunia 1994, dan sepupunya, Jonatan, Albert, dan Emma Braut, semuanya pesepakbola profesional.
Bagi Indonesia, performa Haaland menjadi tontonan menarik karena ia adalah salah satu ikon global yang bisa menginspirasi pesepakbola muda Tanah Air. Meski tidak ada wakil Asia di babak gugur, ketajaman Haaland mengingatkan pada pentingnya efisiensi di depan gawang—pelajaran berharga bagi pengembangan sepak bola nasional.
Haaland sendiri mengakui kekagumannya pada Lionel Messi, yang kini menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia. “Messi, bro, apa kau manusia?” tulis Haaland di Snapchat setelah Messi mencetak brace melawan Austria. Namun di balik candaan itu, Haaland punya ambisi besar: memimpin Norwegia meraih kejayaan Piala Dunia. Bisakah ia mewujudkannya di Amerika Serikat?



