Keputusan Berani Solbakken: Haaland Dicadangkan, Norwegia Kalah Telak dari Prancis
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Norwegia Stale Solbakken melakukan 10 perubahan pemain di laga pamungkas grup, termasuk mencadangkan Erling Haaland, yang berujung kekalahan 1-4 dari Prancis.
- Keputusan ini diambil demi menjaga kebugaran pemain kunci jelang fase gugur, meski harus menerima konsekuensi perjalanan lebih jauh dan kritik dari penggemar.
- Sejarah mencatat, tim yang melakukan rotasi massal di fase grup jarang sukses melaju jauh, namun Norwegia berharap bisa mengulang kisah Belgia 2018.

Keputusan kontroversial pelatih Norwegia, Stale Solbakken, dengan mencadangkan bintang utama Erling Haaland dan melakukan sepuluh perubahan pemain di laga pamungkas grup berbuah kekalahan telak 1-4 dari Prancis di Boston Stadium, Jumat (27/6) waktu setempat. Langkah berani ini diambil meskipun Norwegia sudah memastikan tiket ke babak gugur, namun justru memicu perdebatan mengenai prioritas antara hasil pertandingan atau kebugaran tim jangka panjang.
Prancis tampil tanpa beban dan langsung tancap gas. Ousmane Dembele, yang baru saja meraih Ballon d'Or, mencetak hat-trick dalam 25 menit pertama, memanfaatkan kelengahan pertahanan Norwegia yang diisi pemain pelapis. Kylian Mbappe sempat mengenai mistar gawang di menit awal, namun Dembele-lah yang menjadi bintang dengan torehan tiga gol cepat. Prancis menutup babak pertama dengan keunggulan 4-0, sebelum Norwegia memperkecil kedudukan melalui gol penalti di babak kedua.
Solbakken membela keputusannya dengan alasan pemulihan fisik. "Ini keputusan yang mudah," ujarnya. "Kami melakukan evaluasi setelah laga melawan Senegal, dan lima hingga enam pemain sangat kelelahan setelah 80 menit. Seluruh lini belakang dan beberapa gelandang butuh istirahat." Ia menambahkan bahwa pertimbangan utama adalah menjaga pemain kunci seperti Haaland dan Martin Odegaard agar fit untuk babak gugur, meskipun ia mengakui penggemar Norwegia pasti kecewa tidak melihat kedua bintang itu bermain.
Keputusan ini menuai reaksi beragam dari para pengamat. Mantan striker Inggris Ian Wright mengaku terkejut, terutama karena Norwegia sebelumnya menurunkan susunan pemain yang sama saat mengalahkan Irak dan Senegal. Sementara itu, mantan gelandang Skotlandia Pat Nevin menilai rotasi massal bisa dimaklumi mengingat gaya bermain fisik Norwegia yang rentan cedera. "Jika mereka memaksakan gaya fisik dan kehilangan dua pemain, apakah itu sepadan? Saya curiga mereka berpikir tidak sepadan," kata Nevin kepada BBC Radio 5 Live.
Roy Keane, legenda Republik Irlandia, memberikan perspektif berbeda. Menurutnya, Norwegia yang baru pertama kali tampil di Piala Dunia sejak 1998 memiliki prioritas berbeda dengan Prancis yang diunggulkan. "Prioritas Norwegia adalah lolos dari grup, dan itu sudah tercapai. Saya pikir pelatih mereka berpikir akan sulit mengalahkan Prancis, jadi lebih baik istirahat dan coba lagi minggu depan," ujar Keane di ITV. Ia menambahkan bahwa ekspektasi kedua negara memang berbeda, sehingga keputusan Solbakken masuk akal dalam konteks perjalanan turnamen.
Namun, sejarah menunjukkan bahwa rotasi massal di laga pamungkas grup jarang membuahkan hasil manis. Spanyol melakukannya pada 2006 dengan 11 perubahan melawan Arab Saudi dan menang, tetapi kemudian kalah dari Prancis di babak 16 besar. Sebaliknya, Belgia pada 2018 sukses setelah merotasi 10 pemain, mengalahkan Jepang 3-2 di babak 16 besar dan Brasil di perempat final, sebelum akhirnya tersingkir oleh Prancis. Norwegia berharap bisa mengikuti jejak Belgia, meskipun tantangan logistik dan tekanan penggemar menjadi beban tambahan.
Pertanyaan besarnya kini: apakah istirahat yang didapat Haaland dan pemain kunci lainnya akan membayar lunas di babak gugur? Atau justru ritme permainan yang hilang akibat rotasi akan menjadi bumerang? Jawabannya akan terlihat saat Norwegia menghadapi Pantai Gading di Arlington, 30 Juni mendatang.



