Portugal Bangkit dari Kritik: Kemenangan Telak 5-0 atas Uzbekistan di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Portugal mengalahkan Uzbekistan 5-0 dengan permainan disiplin, setelah hasil imbang 1-1 di laga pembuka.
- Cristiano Ronaldo mencetak dua gol dan menjadi pemain pertama yang mencetak gol di enam edisi Piala Dunia.
- Pelatih Roberto Martinez menekankan pentingnya bermain dengan kepala dingin, bukan emosi, untuk sukses di turnamen.

Portugal menegaskan ambisinya di Piala Dunia 2026 dengan menghancurkan Uzbekistan 5-0 pada laga kedua Grup K di Houston, Selasa (23/6) waktu setempat. Kemenangan ini menjadi jawaban atas kritik tajam setelah hasil imbang 1-1 melawan Republik Demokratik Kongo di pertandingan pembuka.
Pelatih Roberto Martinez mengakui bahwa timnya belajar dari kesalahan di laga perdana. "Saat kami mencetak gol di pertandingan pertama, kami kehilangan disiplin dan bentuk permainan. Kami bertaruh dengan hati, bukan kepala. Hari ini sebaliknya, sangat disiplin," ujar Martinez dalam konferensi pers usai pertandingan.
Portugal tampil agresif sejak menit awal. Mereka mencatatkan 17 percobaan ke gawang, delapan di antaranya tepat sasaran. Cristiano Ronaldo, yang kini berusia 41 tahun, menjadi bintang dengan dua golnya. Ia juga mencatatkan sejarah sebagai pemain pertama yang berhasil mencetak gol di enam edisi Piala Dunia.
Martinez memuji etos kerja Ronaldo yang tak pernah pudar. "Saya belum pernah bekerja dengan pemain yang, apa pun yang terjadi, memiliki rasa lapar luar biasa untuk bekerja keesokan harinya," kata pelatih asal Spanyol itu. Ia juga menekankan bahwa kontribusi Ronaldo tidak hanya soal gol, tetapi juga pengalaman dan kemampuannya menciptakan ruang bagi rekan setim.
Kemenangan ini membawa Portugal ke puncak klasemen Grup K dengan empat poin, unggul selisih gol atas Kolombia yang juga mengoleksi empat poin. Uzbekistan, yang kalah dua kali berturut-turut, berada di dasar klasemen dan hampir dipastikan tersingkir. Di laga terakhir, Portugal akan menghadapi Kolombia, sementara Uzbekistan bertemu Republik Demokratik Kongo.
Martinez juga meremehkan anggapan bahwa start lambat menjadi masalah. "Ini Piala Dunia ketiga saya. Di edisi pertama, saya pikir harus menang setiap pertandingan. Sekarang saya sadar justru sebaliknya. Ini adalah proses," ujarnya. Filosofi ini tampaknya berhasil: Portugal menunjukkan kedewasaan dengan bermain lebih tenang dan terstruktur.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, performa Portugal menjadi tontonan menarik. Dengan Ronaldo yang masih menjadi pusat perhatian, dan Martinez yang piawai meramu strategi, Portugal layak diperhitungkan sebagai kandidat juara. Pertanyaan selanjutnya: mampukah mereka mempertahankan konsistensi saat menghadapi Kolombia yang juga tampil impresif?



