Atlanta Stadium Buktikan Piala Dunia Tak Selalu Mahal: Hot Dog Rp30 Ribu dan Coke Isi Ulang Rp20 Ribu
Baca dalam 60 detik
- Stadion Atlanta, markas Atlanta United dan Falcons, menerapkan kebijakan harga makanan dan minuman setara restoran di luar stadion selama Piala Dunia 2026.
- Fasilitas seperti Fan Fest gratis, transportasi umum tanpa kenaikan tarif, dan ribuan hotel dalam jarak jalan kaki menjadi daya tarik utama bagi suporter internasional.
- Konsep 'Southern hospitality' ini menjadi pembeda di tengah kritik global terhadap harga tiket dan konsesi yang melambung tinggi di turnamen sepak bola terbesar dunia.

Di tengah gelombang kritik terhadap harga tiket dan konsesi yang meroket di Piala Dunia 2026, Stadion Atlanta hadir sebagai oase bagi kantong para suporter. Stadion yang menjadi markas Atlanta Falcons (NFL) dan Atlanta United (MLS) ini justru menawarkan makanan ringan dengan harga yang sama dengan restoran di luar stadion, sebuah pendekatan yang langka di Amerika Serikat.
Chief Operating Officer Stadion Atlanta, Dietmar Exler, menyebutkan bahwa kebijakan harga terjangkau ini sudah menjadi komitmen sejak stadion dibuka pada 2017. "Kami tidak akan menaikkan harga hanya karena ada Piala Dunia. Ini adalah komitmen kami kepada para penggemar," ujarnya kepada Reuters. Sebagai contoh, minuman bersoda isi ulang hanya dibanderol 2 dolar AS (sekitar Rp30.000) dan hot dog dengan harga yang sama. Ada sekitar selusin item makanan dan minuman yang dilindungi harganya agar tetap ramah di kantong.
Kebijakan ini menjadi kontras dengan praktik di banyak stadion lain yang kerap menaikkan harga konsesi secara drastis saat event besar. Exler menegaskan bahwa harga tersebut tidak berubah sejak stadion beroperasi, baik untuk pertandingan sepak bola kampus, Falcons, Atlanta United, maupun Piala Dunia. "Kami menyebutnya keramahan ala Selatan (Southern hospitality)," tambahnya.
Selain harga makanan, akses transportasi juga menjadi nilai tambah. Perusahaan kereta lokal MARTA tidak menaikkan tarif selama turnamen. Stadion yang terletak di pusat kota Atlanta ini juga dikelilingi oleh 15.000 kamar hotel dalam radius 15 menit berjalan kaki, serta dua stasiun kereta bawah tanah yang menghubungkan langsung ke bandara dalam waktu sekitar 20 menit. Fan Fest gratis pun hanya berjarak kurang dari 10 menit jalan kaki dari stadion.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, model Atlanta ini bisa menjadi referensi bagi pengelola stadion di Tanah Air yang kerap disorot karena harga tiket dan konsesi yang tidak terjangkau. Dengan semakin banyaknya event internasional yang digelar di Indonesia, seperti Piala Dunia U-20 atau event olahraga lainnya, pendekatan yang mengutamakan pengalaman penggemar tanpa membebani kantong bisa menjadi kunci sukses penyelenggaraan.
Exler menekankan bahwa pihak stadion tidak memiliki kendali atas harga tiket yang ditentukan oleh FIFA atau promotor. Namun, apa yang bisa dikendalikan—mulai dari harga makanan, transportasi, hingga fasilitas pendukung—justru menjadi pembeda. "Kami ingin memberikan pengalaman terbaik bagi penggemar dalam segala hal yang kami lakukan," pungkasnya.
Ke depannya, apakah model 'Southern hospitality' ini akan diadopsi oleh stadion-stadion lain di Amerika Serikat dan dunia? Atau justru akan tetap menjadi pengecualian di tengah arus komersialisasi olahraga global? Jawabannya mungkin akan terlihat pada Piala Dunia 2026 mendatang, ketika Atlanta menjadi salah satu tuan rumah yang paling ramah di kantong.



