Komentator Paraguay Kehilangan Akreditasi Piala Dunia Setelah Ledakan Amarah di Siaran Langsung
Baca dalam 60 detik
- Jorge Chipi Vera dicabut kredensialnya oleh FIFA setelah melontarkan makian terhadap wasit dan presiden FIFA saat pertandingan Paraguay versus Turki.
- Insiden dipicu oleh kartu merah Miguel Almiron akibat aturan baru yang melarang pemain menutup mulut saat beradu argumen di lapangan.
- FIFA jarang menjatuhkan sanksi serupa pada jurnalis; kasus terakhir terjadi pada era Sepp Blatter terhadap Andrew Jennings.

FIFA mengambil tindakan tegas terhadap seorang komentator asal Paraguay, Jorge Chipi Vera, yang kehilangan akreditasi Piala Dunia setelah melontarkan kata-kata kasar dan tuduhan pencurian kepada Presiden FIFA Gianni Infantino serta wasit dalam siaran langsung pertandingan Paraguay melawan Turki, Senin (23/6) lalu. Keputusan ini menjadi langkah langka dari badan sepak bola dunia yang biasanya enggan menjatuhkan sanksi pada awak media.
Ledakan kemarahan Vera terjadi saat Miguel Almiron, bintang Paraguay, menjadi pemain pertama di turnamen ini yang mendapat kartu merah karena melanggar aturan baru FIFA: pemain dilarang menutup mulut dengan tangan saat berdebat dengan lawan. Almiron diusir keluar lapangan pada menit akhir babak pertama setelah diduga melontarkan kata-kata kepada pemain Turki Mert Muldur sambil menutup mulutnya. Aturan ini diperkenalkan untuk mencegah pemain menyembunyikan ucapan ofensif dari kamera atau ofisial.
Dalam siaran langsung, Vera kehilangan kendali dan menyebut Infantino serta wasit sebagai "pencuri" yang "membunuh sepak bola". Ia kemudian memposting permintaan maaf di media sosial X pada malam harinya, mengakui bahwa akreditasinya telah dicabut. "Selama siaran pertandingan Paraguay melawan Turki, saya meluapkan emosi. Dalam frustrasi atas pengusiran pemain negara saya, saya menggunakan ekspresi ofensif dan tidak dapat diterima terhadap wasit, FIFA, dan otoritasnya," tulis Vera dalam pernyataan panjangnya.
Vera, yang bekerja untuk ABC Cardinal dan ABC TV, menyatakan bahwa sanksi tersebut melarangnya berpartisipasi dalam liputan Piala Dunia media tempatnya bekerja, baik di dalam maupun di luar stadion, serta mencakup segala bentuk partisipasi atau liputan terkait Piala Dunia. Ia juga mengirimkan surat permintaan maaf kepada FIFA dan bertanggung jawab penuh atas tindakannya. "Mempertanyakan aturan atau tidak setuju dengan keputusan wasit tidak pernah membenarkan kehilangan kendali seperti yang saya lakukan. Saya gagal dalam hal fundamental: menjaga ketenangan dan rasa hormat yang dibutuhkan profesi ini," tambahnya.
FIFA menolak berkomentar secara resmi, namun sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan bahwa badan sepak bola dunia menganggap bahasa yang digunakan Vera tidak dapat diterima dan tindakannya tidak sesuai dengan standar profesionalisme yang diharapkan dari personel penyiaran terakreditasi. Sumber tersebut menambahkan bahwa meskipun FIFA tidak mempermasalahkan kebebasan berpendapat terhadap aturan permainan, penggunaan berulang frasa Spanyol yang sangat ofensif yang ditujukan kepada pejabat FIFA dipandang sangat mengejutkan.
Kasus ini mengingatkan pada insiden langka sebelumnya, ketika mantan Presiden FIFA Sepp Blatter melarang jurnalis investigatif lepas Andrew Jennings dari semua acara FIFA setelah tuduhan korupsi yang dilontarkannya, yang kemudian terbukti di pengadilan AS. Tindakan FIFA terhadap Vera menunjukkan bahwa organisasi tersebut tidak segan-segan mengambil langkah drastis untuk menjaga citra dan profesionalisme di ajang sebesar Piala Dunia.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga etika jurnalistik, terutama saat meliput ajang internasional. Meskipun kebebasan pers dijamin, standar profesionalisme tetap menjadi prioritas. Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah apakah FIFA akan memperketat aturan bagi jurnalis dan komentator di turnamen mendatang, atau justru insiden ini hanya menjadi kasus terisolasi yang tidak mengubah kebijakan secara signifikan.



