Krisis di Timnas Portugal: Ronaldo Jadi Sumber Perpecahan?
Baca dalam 60 detik
- Cristiano Ronaldo gagal mencetak gol dalam 10 laga terakhir di turnamen besar, memicu keraguan akan kontribusinya.
- Pernyataan Joao Neves yang dianggap meremehkan Ronaldo memicu serangan dari penggemar dan keluarga sang bintang.
- Pelatih Roberto Martinez dihadapkan pada tekanan untuk menurunkan Ronaldo meski performanya menurun, mengancam harmoni tim.

Kekhawatiran akan perpecahan di skuad Portugal mencuat setelah Cristiano Ronaldo gagal mencetak gol dalam 10 pertandingan terakhirnya di Piala Dunia dan Piala Eropa, termasuk laga pembuka melawan DR Congo yang berakhir imbang 1-1. Situasi ini diperparah dengan reaksi berlebihan dari penggemar dan keluarga Ronaldo terhadap pernyataan rekan setimnya, Joao Neves.
Neves, gelandang Paris Saint-Germain, hanya mengatakan bahwa Ronaldo adalah "satu dari kami" dan "tidak berbeda dari pemain lain" dalam wawancara usai pertandingan. Namun, pernyataan yang terkesan netral itu dianggap sebagai bentuk ketidaksetujuan terhadap status Ronaldo. Akibatnya, akun media sosial Neves, Bruno Fernandes, dan pemain lain dibanjiri komentar negatif dari penggemar Ronaldo yang menuduh mereka tidak menghormati kapten tim.
Yang lebih mengkhawatirkan, keluarga Ronaldo ikut memperkeruh suasana. Georgina Rodriguez, pasangan Ronaldo, sempat bereaksi terhadap kutipan palsu yang dikaitkan dengan pacar Neves, sementara saudara perempuan Ronaldo, Katia dan Elma Aveiro, membagikan unggahan yang mengisyaratkan adanya upaya untuk mengucilkan Ronaldo dari tim. Bahkan, seorang komentator di CMTV—saluran TV yang sahamnya dimiliki Ronaldo—mengutip pernyataan palsu Zinedine Zidane untuk membela Ronaldo.
Ketegangan ini memicu pertanyaan di konferensi pers timnas: apakah Portugal terpolarisasi antara yang pro dan kontra Ronaldo? Bek Ruben Dias menjawab dengan tegas bahwa topik itu "seharusnya tidak perlu dibahas", sementara Diogo Dalot menuding ada pihak yang "tidak ingin Portugal menang".
Kritik terhadap Ronaldo bukan hanya soal kegagalan mencetak gol. Analis Luis Aguilar dari SIC Noticias menilai bahwa Ronaldo kini bukan lagi pemain terbaik di timnas Portugal, berbeda dengan Lionel Messi yang masih menjadi andalan Argentina. "Seolah-olah Portugal bermain di negara milik Cristiano Ronaldo, di mana kepentingan individu lebih besar daripada tim," ujarnya. Direktur Eksekutif A Bola, Luis Mateus, bahkan menyebut Ronaldo sebagai "bagian dari masalah" karena kontribusi defensifnya yang minim tidak lagi diimbangi oleh gol.
Pelatih Roberto Martinez berada dalam posisi sulit. Meski enggan menyebut Ronaldo tak tersentuh, data menunjukkan ia jarang menarik Ronaldo keluar lebih awal. Keputusan untuk tetap memainkan Ronaldo penuh waktu melawan DR Congo menuai kritik, terutama karena Portugal memiliki banyak talenta muda seperti Joao Felix dan Goncalo Ramos yang haus gol.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini mengingatkan pada dilema yang kerap terjadi ketika pemain legendaris mulai menurun performanya namun masih dianggap ikon. Di Liga Indonesia, fenomena serupa pernah terjadi pada pemain seperti Bambang Pamungkas yang tetap menjadi pilihan utama meski usia tak lagi muda. Namun, tekanan dari penggemar dan media di Portugal jauh lebih besar karena status global Ronaldo.
Portugal akan menghadapi Uzbekistan pada laga kedua Grup H. Kemenangan meyakinkan—idealnya dengan gol Ronaldo—diharapkan dapat meredakan ketegangan. Namun, jika Ronaldo kembali mandul, tekanan untuk mencadangkannya akan semakin kuat. Akankah Martinez berani mengambil keputusan yang tidak populer demi kepentingan tim?



