Pelatih Paraguay Soroti Bahaya Papan Iklan di Pinggir Lapangan Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Julio Enciso mengalami insiden benturan keras dengan papan iklan saat laga Paraguay vs Australia, memicu kekhawatiran akan keselamatan pemain.
- Pelatih Gustavo Alfaro mendesak FIFA untuk mengevaluasi ulang jarak aman papan reklame di sekitar lapangan.
- Paraguay masih berpeluang lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik, meski hasil imbang tanpa gol membuat posisi mereka genting.

Pelatih tim nasional Paraguay, Gustavo Alfaro, secara terbuka mempertanyakan standar keselamatan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 setelah salah satu pemainnya, Julio Enciso, mengalami benturan keras dengan papan iklan yang dipasang terlalu dekat dengan garis lapangan. Insiden terjadi pada babak kedua laga melawan Australia di San Francisco Bay Area Stadium, Kamis (25/6) waktu setempat, yang berakhir imbang tanpa gol.
Enciso, yang tengah berebut bola dengan bek Australia Alessandro Circati, kehilangan keseimbangan dan membentur papan reklame di belakang gawang lawan. Meski sempat terlihat kesakitan, pemain berusia 23 tahun itu mampu melanjutkan pertandingan hingga peluit akhir. Namun, Alfaro menilai bahwa kejadian ini bukan sekadar insiden biasa, melainkan cerminan dari celah regulasi yang perlu segera dibenahi.
“Mungkin akan lebih baik jika ada ruang yang lebih luas. Karena intensitas permainan sangat tinggi, dan ketika pemain kehilangan keseimbangan, mereka bisa jatuh dan cedera. Hal-hal seperti ini bisa terjadi,” ujar Alfaro dalam konferensi pers usai laga. Ia menambahkan bahwa pihak penyelenggara, dalam hal ini FIFA, perlu meninjau ulang penempatan papan iklan demi keselamatan pemain.
Hasil imbang ini membuat posisi Paraguay di Grup D semakin sulit. Amerika Serikat memuncaki klasemen dengan tujuh poin, disusul Australia dengan lima poin. Paraguay harus menunggu hasil pertandingan grup lain untuk mengetahui apakah mereka bisa melaju sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik. Meski begitu, Alfaro tetap optimistis. “Kami mampu bangkit setelah kekalahan telak 1-4 dari Amerika Serikat di laga pertama. Dua pertandingan berikutnya kami tampil solid,” katanya.
Bagi publik sepak bola Indonesia, insiden ini menjadi pengingat pentingnya standar keselamatan di turnamen internasional. Meskipun tidak ada pemain Indonesia yang berlaga di Piala Dunia 2026, banyak pemain naturalisasi dan diaspora yang bermain di liga-liga Eropa dan Amerika. Mereka rentan mengalami situasi serupa jika regulasi FIFA tidak diperketat. Selain itu, Indonesia sendiri tengah giat membangun infrastruktur sepak bola, termasuk stadion bertaraf internasional. Pelajaran dari insiden ini bisa menjadi acuan dalam penataan area pinggir lapangan di kompetisi domestik.
Ke depan, FIFA dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah keamanan pemain harus dikorbankan demi kepentingan komersial? Papan iklan yang dipasang terlalu rapat memang menguntungkan dari sisi pendapatan, namun risikonya bisa berakibat fatal. Jika tidak ada evaluasi serius, bukan tidak mungkin insiden serupa akan terulang dan berujung cedera parah yang mengakhiri karier pemain.



