Jepang Hadapi Ujian Terberat: Brasil di 32 Besar Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Samurai Blue akan berhadapan dengan Brasil di babak 32 besar Piala Dunia 2026, setelah sukses melewati fase grup yang berat.
- Kemenangan persahabatan Jepang atas Brasil tahun lalu menjadi modal psikologis, namun para pemain sadar laga knockout memiliki level berbeda.
- Pertemuan ini menjadi tolok ukur perkembangan sepak bola Jepang yang kini tidak lagi dipandang remeh oleh lawan sekelas Brasil.

Jepang harus menghadapi rintangan terbesar mereka di Piala Dunia 2026: Brasil, juara dunia lima kali, di babak 32 besar yang akan digelar di Houston, Senin mendatang. Setelah melewati grup berat, Samurai Blue kini berhadapan dengan lawan yang tidak hanya kuat secara historis, tetapi juga termotivasi setelah kekalahan memalukan di laga uji coba tahun lalu.
Pertemuan ini menjadi yang pertama sejak Jepang mengalahkan Brasil 3-2 dalam laga persahabatan di Tokyo, Oktober lalu. Kemenangan itu merupakan yang pertama bagi Jepang atas Brasil di level senior. Pelatih Hajime Moriyasu mengakui bahwa hasil tersebut justru meningkatkan motivasi Brasil. "Saya pikir motivasi mereka tinggi setelah kami menang," ujar Moriyasu. "Bisa bermain melawan Brasil yang serius di panggung seperti ini adalah sesuatu yang saya nantikan."
Dalam konferensi pers setelah hasil imbang 1-1 melawan Swedia, media Brasil menyatakan bahwa Jepang tidak lagi bisa dianggap sebagai underdog. Moriyasu menyambut pernyataan itu dengan rasa bangga. "Jepang mungkin dulu lawan yang bisa mereka kalahkan dengan mudah satu dekade lalu. Tapi sekarang kami diakui sebagai tim yang tidak mudah dikalahkan. Itu menunjukkan perkembangan sepak bola Jepang," katanya.
Namun, para pemain Jepang sadar bahwa laga persahabatan tidak bisa dijadikan patokan. Penyerang Ayase Ueda menegaskan, "Pengalaman itu tidak bisa diperhitungkan. Tidak relevan dalam hal persiapan dan level pertandingan. Tapi perubahan persepsi lawan menunjukkan kemajuan kami."
Gelandang Daichi Kamada, yang bersama Ueda menjadi top skor Jepang dengan dua gol, melihat laga ini sebagai kesempatan membuktikan diri. "Secara mental, mereka tidak akan meremehkan kami lagi. Yang terpenting adalah menikmati momen ini. Sepak bola Jepang terus berkembang, dan kami akan memberikan segalanya untuk membuktikannya di lapangan," ujarnya.
Penyerang Swedia Viktor Gyokeres, yang berhasil diredam Jepang di laga sebelumnya, memberikan pujian. "Etos kerja mereka luar biasa. Mereka selalu berada di posisi bertahan dan menyerang yang tepat," kata pemain Arsenal itu.
Bagi Indonesia, perjalanan Jepang ini bisa menjadi inspirasi. Sebagai sesama negara Asia, keberhasilan Jepang menembus babak gugur dan bersaing dengan raksasa seperti Brasil menunjukkan bahwa sepak bola Asia mampu bersaing di level tertinggi. Pelajaran tentang disiplin taktik, etos kerja, dan pengembangan pemain muda bisa menjadi catatan bagi pengembangan sepak bola Indonesia ke depan.
Jepang memiliki rekor kurang baik di babak 16 besar: kalah dari Turki (2002), Paraguay (2010), Belgia (2018), dan Kroasia (2022). Kini mereka berhadapan dengan Brasil yang haus revans. Mampukah Samurai Blue mematahkan kutukan dan mencatat sejarah baru? Atau justru Brasil yang akan membuktikan bahwa kelas mereka masih di atas?



