120 Jemaah Haji RI Masih Dirawat di Arab Saudi, Kemenhaj Tunggu Kelayakan Terbang
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 120 jemaah haji Indonesia masih menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi dan belum bisa dipulangkan karena kondisi kesehatan belum memungkinkan.
- Angka kematian jemaah haji tahun ini mencapai 350 orang, lebih rendah dari tahun lalu, namun Kemenhaj akan memperketat istitha'ah kesehatan tahun depan.
- Proses pemulangan jemaah hampir selesai: 149.726 orang sudah tiba di Indonesia, tersisa 130 kloter di Madinah yang akan pulang hingga 4 Juli 2026.

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mencatat 120 jemaah haji Indonesia masih menjalani perawatan intensif di sejumlah rumah sakit di Arab Saudi. Mereka baru bisa dipulangkan ke Tanah Air setelah dinyatakan layak terbang oleh tim medis. Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf menyatakan bahwa pemerintah tetap bertanggung jawab penuh atas para jemaah tersebut hingga tiba di Indonesia.
Gus Irfan, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa petugas haji masih berjaga untuk memantau perkembangan kesehatan para jemaah yang dirawat. "Sekalipun kloternya sudah pulang, pasti kita akan pulangkan selama dokter mengatakan sudah layak terbang," ujarnya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (23/6). Proses pemulangan akan dilakukan secara bertahap, mengikuti kondisi masing-masing pasien.
Di sisi lain, angka kematian jemaah haji tahun ini mencapai 350 orang. Meski lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang mencatat selisih lebih dari 100 kasus, Kemenhaj menilai jumlah tersebut masih tinggi. "Ini suatu capaian walaupun bukan capaian yang memuaskan," kata Gus Irfan. Ia menegaskan bahwa tahun depan pemerintah akan memperketat dan memperkuat istitha'ah kesehatan bagi calon jemaah, sebagai upaya menekan angka kematian.
Proses pemulangan jemaah haji hampir rampung. Hingga Selasa, sebanyak 149.726 orang telah tiba di Indonesia melalui 387 kelompok terbang. Seluruh jemaah di Makkah sudah bersih, dan hanya tersisa sekitar 130 kloter yang masih berada di Madinah. "Alhamdulillah berangsur-angsur akan kembali," ujar Gus Irfan. Petugas haji juga akan dipulangkan secara bertahap, dengan kepulangan terakhir dijadwalkan pada 4 Juli 2026.
Kebijakan penguatan istitha'ah kesehatan menjadi sorotan. Menurut pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, kebijakan ini penting untuk memastikan jemaah benar-benar siap secara fisik sebelum berangkat. "Pemerintah perlu melakukan skrining lebih ketat, terutama bagi jemaah lanjut usia dan yang memiliki penyakit bawaan," ujarnya. Langkah ini diharapkan mampu menekan angka perawatan dan kematian di masa mendatang.
Ke depan, tantangan terbesar Kemenhaj adalah memastikan seluruh jemaah yang masih dirawat dapat pulang dengan selamat, sekaligus mengevaluasi sistem kesehatan haji. Apakah penguatan istitha'ah kesehatan cukup untuk menekan angka kematian? Atau diperlukan terobosan lain dalam manajemen kesehatan jemaah? Musim haji tahun depan akan menjadi ujian bagi komitmen pemerintah.



