Sam Smith: Album Baru 'Hazel Eyes' adalah Surat Cinta untuk Tunangan, Christian Cowan
Baca dalam 60 detik
- Sam Smith mengungkapkan album 'Hazel Eyes' terinspirasi dari hubungannya dengan Christian Cowan, menandai pergeseran dari karya-karya sebelumnya yang sarat kesedihan.
- Pelantun 'Unholy' ini menyebut album tersebut sebagai tindakan radikal karena berani mengekspresikan cinta di tengah situasi dunia yang terpecah.
- Selain membahas album, Smith juga mengakui keinginannya untuk memiliki anak, sebuah tema yang mulai dieksplorasi dalam single terbarunya 'Oh Mother'.

Pelantun "Too Good at Goodbyes" itu mengaku album terbarunya, Hazel Eyes, adalah bentuk ungkapan cinta kepada tunangannya, desainer asal London, Christian Cowan. Pengakuan ini disampaikan Sam Smith dalam wawancara dengan The New Yorker Radio Hour, menandai babak baru dalam perjalanan bermusiknya yang selama ini identik dengan lagu-lagu melankolis.
Setelah mengumumkan pertunangan dengan Cowan bulan lalu setelah menjalin hubungan lebih dari tiga tahun, Smith mengaku album ini lahir dari kebahagiaan yang selama ini ia hindari. Penyanyi berusia 34 tahun itu mengaku selalu takut jatuh cinta karena khawatir tidak bisa menulis lagu dari perspektif bahagia. Namun, pengalaman bersama Cowan justru membuka dimensi baru dalam proses kreatifnya.
"Dia begitu indah dan mendukung sepanjang proses pembuatan album ini. Ini tentang keseimbangan antara berbagi dan menjaga privasi, tapi pada akhirnya album ini adalah surat cinta untuknya dan untuk masa yang sedang kami jalani," ujar Smith. Pernyataan ini menjadi kontras dengan album debutnya, In the Lonely Hour, yang justru lahir dari patah hati dan kesepian.
Dalam wawancara dengan The New York Times, Smith juga menyebut album ini sebagai sesuatu yang "radikal". Di tengah dunia yang penuh perpecahan, ia menilai kebahagiaan yang ia rasakan bersama Cowan adalah bentuk perlawanan. "Ada sesuatu yang radikal tentang menjadi queer di zaman ini dan menyanyikan lagu cinta. Saya tidak akan membiarkan racun yang saya baca dan lihat memengaruhi cara saya mencintai," tegasnya.
Bagi penggemar di Indonesia, pergeseran tema ini menarik dicermati. Selama ini, lagu-lagu Sam Smith seperti "Stay With Me" dan "Too Good at Goodbyes" banyak diputar di platform streaming lokal dan menjadi soundtrack bagi banyak pendengar yang sedang patah hati. Kini, dengan album yang lahir dari kebahagiaan, publik mungkin akan melihat sisi baru dari musisi yang kerap tampil vokal soal isu LGBTQ+. Di Indonesia, di mana isu queer masih sensitif, langkah Smith ini bisa menjadi bahan diskusi tentang kebebasan berekspresi dan penerimaan diri.
Selain soal album, Smith juga membuka diri tentang keinginannya memiliki anak. Dalam wawancara dengan BBC Radio 2, ia mengaku merasa semakin "maternal" dan "lapar" untuk menjadi orang tua. Lagu "Oh Mother" yang ia tulis, menurutnya, adalah upaya untuk mengakses kemarahan dan perlindungan seorang ibu ketika anaknya terluka. "Seiring bertambahnya usia, saya merasa menjadi lebih maternal dan pasti ingin punya anak suatu hari nanti," ungkapnya.
Langkah Sam Smith ini menunjukkan evolusi pribadi dan artistik yang signifikan. Dari penyanyi yang takut bahagia, kini ia justru merangkul kebahagiaan sebagai sumber inspirasi. Pertanyaannya, akankah album Hazel Eyes mampu menyamai kesuksesan komersial karya-karya lamanya yang justru lahir dari kesedihan? Atau justru pendengar akan semakin terhubung dengan sisi autentik Smith yang baru? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, langkah ini menegaskan bahwa cinta, dalam segala bentuknya, adalah kekuatan yang patut dirayakan.



