Travis Barker: Bayang-Bayang Kecelakaan Pesawat 2008 Masih Menghantui, Kisah Trauma dalam Dokumenter Baru
Baca dalam 60 detik
- Drummer Blink-182 itu mengaku hidup dalam ketakutan ekstrem pasca-insiden 2008, bahkan merasa 'menunggu ajal' setiap kali berada di dalam bus.
- Dokumenter 'Louder Than Fear' menyoroti pergulatan Barker dengan trauma dan survivor's guilt, menegaskan bahwa trauma tidak bisa diatasi, hanya dijalani.
- Kisah Barker menjadi pengingat akan pentingnya dukungan mental bagi penyintas kecelakaan, relevan dengan meningkatnya kesadaran kesehatan mental di Indonesia.

Dua belas tahun setelah nyaris kehilangan nyawa dalam kecelakaan pesawat, musisi Travis Barker mengaku masih dihantui ketakutan yang mendalam. Dalam sebuah wawancara terbaru, drummer Blink-182 itu menggambarkan hidupnya pasca-insiden 2008 bagaikan berada dalam film horor 'Final Destination'โselalu waspada, selalu merasa ajal akan segera menjemput.
Barker, yang kini berusia 50 tahun, menceritakan bagaimana ia menarik diri dari dunia luar setelah tragedi yang menewaskan empat orang dan hanya menyisakan dirinya serta sahabatnya, Adam Goldstein atau DJ AM, sebagai korban selamat. "Saya hanya bersembunyi. Saya sangat ketakutan. Saya hanya menunggu dampak di dalam bus. Saya seperti, 'Oh, saya berikutnya. Saya akan pergi kapan saja,'" ujarnya kepada People, menggambarkan kecemasan yang tak kunjung reda.
Beban psikologis Barker semakin berat ketika Goldstein meninggal dunia setahun kemudian akibat overdosis. Rasa bersalah penyintas (survivor's guilt) pun menghantuinya. "Kamu tidak akan pernah siap untuk itu. Kamu tidak akan pernah siap kehilangan salah satu sahabat terbaikmu, terutama seseorang yang baru saja selamat dari kecelakaan pesawat bersamaku," kenang musisi yang menikah dengan Kourtney Kardashian itu.
Perjalanan traumatis Barker kini diangkat dalam film dokumenter berjudul 'Travis Barker: Louder Than Fear' yang disutradarai Justin Krook dan Michael Dwyer. Para sineas menegaskan bahwa film ini bukan tentang 'mengatasi' trauma, melainkan tentang bagaimana seseorang belajar hidup berdampingan dengannya. "Perbedaan utama yang kami temukan selama pembuatan film ini adalah bahwa ini tidak selalu tentang mengatasi trauma, karena saya tidak berpikir Anda benar-benar mengatasinya. Anda benar-benar hidup dengannya," jelas Dwyer kepada People.
Barker juga mengakui bahwa ia kesulitan menghadapi kecelakaan tersebut karena sorotan publik yang begitu besar. Dalam wawancara dengan The Guardian, ia mengungkapkan dua hal yang paling sulit dihadapinya: "Pertama, jelas, terbakar 65 persen. Dan kedua, mengubur dua sahabat terbaikku dan dua pilot yang baru saja kukenal. Itu sulit."
Kisah Barker menyoroti pentingnya kesehatan mental, terutama bagi para penyintas trauma. Di Indonesia, kesadaran akan isu ini terus meningkat, namun stigma masih menjadi penghalang. Kisah seperti Barker dapat menjadi pengingat bahwa trauma bukanlah kelemahan, melainkan luka yang membutuhkan penanganan serupa dengan luka fisik. Dukungan dari keluarga, teman, dan profesional kesehatan mental menjadi krusial dalam proses pemulihan.
Dengan hadirnya dokumenter ini, publik diajak untuk melihat sisi rentan seorang musisi papan atas. Pertanyaannya, akankah keterbukaan Barker mampu mendorong lebih banyak figur publik untuk berani berbagi kisah trauma mereka? Atau justru menjadi pengingat bahwa bahkan di tengah ketenaran, luka batin bisa tetap membekas?



