Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa: Rekor Suhu Pecah, Puluhan Tewas
Baca dalam 60 detik
- Eropa barat mengalami gelombang panas paling awal dan paling mematikan dalam sejarah, dengan suhu di beberapa wilayah menembus 45°C.
- Perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca meningkatkan frekuensi dan intensitas panas ekstrem, membuat kejadian yang dulu langka kini terjadi setiap lima tahun.
- Fenomena El Niño yang aktif memperparah kondisi global, meningkatkan risiko cuaca ekstrem di Asia dan Pasifik Selatan, termasuk Indonesia.

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa barat pada pekan ini memecahkan rekor suhu di sejumlah negara, menewaskan puluhan orang, dan memicu kekhawatiran para ilmuwan tentang dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Prancis mencatat hari terpanas sepanjang sejarah pada Selasa dan Rabu lalu, dengan suhu rata-rata nasional mencapai 29,9°C. Sebanyak 147 kota di Prancis menembus rekor tertinggi untuk bulan Juni, dan 41 stasiun cuaca mencatat suhu di atas 43°C. Inggris juga mencatat hari terpanas di bulan Juni dengan suhu 36,1°C. Spanyol, Jerman, Austria, Belanda, dan Swiss turut memecahkan rekor di sejumlah lokasi.
Yang membuat gelombang panas ini luar biasa bukan hanya suhunya yang ekstrem, tetapi juga waktu kedatangannya. Biasanya, puncak musim panas Eropa terjadi pada pertengahan hingga akhir Juli. Namun, gelombang panas tahun ini datang lebih awal, sekitar sebulan sebelum puncak musim panas. Sejak 1950, hanya satu gelombang panas besar lain yang terjadi lebih awal dari ini.
Para peneliti menegaskan bahwa perubahan iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil menjadi faktor utama di balik meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas. Sebuah studi tentang gelombang panas di Inggris tenggara pada Juni 2025 menemukan bahwa tanpa emisi gas rumah kaca, kejadian serupa hanya akan terjadi sekali dalam 50 tahun. Namun, dengan pemanasan 1,3°C akibat ulah manusia, risiko tersebut meningkat menjadi setidaknya sekali setiap lima tahun.
Gelombang panas ini juga membawa kelembapan tinggi yang jarang terjadi di Eropa, membuat kondisi semakin berbahaya. Kombinasi suhu ekstrem dan kelembapan tinggi mengganggu kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri melalui keringat, terutama pada anak-anak dan lansia. Di Prancis, puluhan orang dilaporkan tewas akibat tenggelam saat mencoba mendinginkan diri di sungai dan danau.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Sehari sebelumnya, suhu permukaan laut global kembali mencapai rekor. Biro Meteorologi Australia mengumumkan El Niño aktif, yang meningkatkan kemungkinan cuaca lebih panas dan kering di Australia, Asia, dan Pasifik Selatan. India dan Pakistan juga telah dilanda gelombang panas mematikan sejak April lalu.
Bagi Indonesia, meskipun tidak langsung terdampak gelombang panas Eropa, fenomena ini menjadi pengingat akan risiko cuaca ekstrem yang semakin nyata. El Niño yang aktif berpotensi memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan risiko kebakaran hutan serta gagal panen di beberapa wilayah Indonesia. Selain itu, kenaikan suhu global juga meningkatkan frekuensi gelombang panas di kawasan tropis, yang dapat mengancam kesehatan masyarakat.
“Perubahan iklim membuat risiko panas ekstrem – yang merupakan bencana alam paling mematikan di Australia – kini menjadi kenyataan global,” tulis para peneliti dalam laporan mereka.
Ke depan, para ilmuwan memperkirakan bahwa suhu rata-rata global akan mendekati rekor pada 2026 dan 2027, didorong oleh kombinasi perubahan iklim dan El Niño. Pertanyaannya, apakah negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, siap menghadapi musim panas yang semakin ekstrem?



