Prabowo Targetkan Produksi Motor Listrik Nasional 2 Juta Unit, Siapkan Skema Kredit Ringan dan Tukar Tambah
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menargetkan produksi motor listrik nasional mencapai 2 juta unit, dengan capaian awal 20 ribu unit dari kelompok Indika.
- Pemerintah berencana menurunkan bunga cicilan dan menghapus uang muka untuk meningkatkan adopsi kendaraan listrik di masyarakat.
- Skema tukar tambah motor bensin menjadi motor listrik tengah disiapkan untuk mempercepat transisi energi di sektor transportasi.

Presiden Prabowo Subianto mengguyah optimisme industri kendaraan listrik nasional dengan menargetkan produksi motor listrik dalam negeri mencapai 2 juta unit, sebuah lompatan besar dari capaian awal 20 ribu unit yang baru saja diumumkan. Target ambisius ini disampaikan langsung di hadapan para pelaku industri saat peluncuran motor listrik nasional dan ekosistem pendukungnya di Cikarang, Bekasi, Kamis (13/2).
Prabowo memberikan sinyal dukungan penuh terhadap pengembangan ekosistem kendaraan listrik, termasuk melibatkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk memperkuat pendanaan. "Danantara dukung dengan apa yang kau bisa dukung," ujarnya, menegaskan peran strategis holding investasi tersebut dalam mempercepat hilirisasi industri hijau. Langkah ini dinilai penting untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dari negara-negara tetangga yang lebih dulu masif mengadopsi kendaraan listrik.
Di luar target produksi, pemerintah juga menyiapkan terobosan pembiayaan agar daya beli masyarakat tidak menjadi penghalang. Prabowo berjanji menurunkan bunga cicilan motor listrik dan membuka opsi pembelian tanpa uang muka (DP). "Kita akan turunkan bunga cicilan untuk rakyat, kemudian kita usahakan tidak pakai DP," katanya. Kebijakan ini diharapkan mampu menggeser preferensi konsumen yang selama ini masih bergantung pada kendaraan konvensional.
Efisiensi biaya menjadi senjata utama pemerintah dalam meyakinkan publik. Berdasarkan perhitungan resmi, penggunaan motor listrik dapat menghemat pengeluaran mobilitas harian minimal 50 persen, bahkan hingga 70 persen dibandingkan motor berbahan bakar bensin. Angka ini tentu relevan di tengah fluktuasi harga BBM dan tekanan inflasi yang membebani rumah tangga kelas menengah ke bawah.
Transisi ke kendaraan listrik tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga kepatuhan terhadap tren global pengendalian emisi. Prabowo mencontohkan kebijakan pajak karbon dan pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil di kota-kota besar seperti Beijing sebagai arah yang akan diikuti. Indonesia, yang berkomitmen menurunkan emisi karbon, perlu mempercepat adopsi kendaraan listrik agar tidak tertinggal dalam rantai pasok global.
Namun, pemerintah tidak mengabaikan mereka yang sudah memiliki motor bensin. Skema tukar tambah tengah disiapkan agar pemilik motor lama dapat beralih ke motor listrik dengan tambahan biaya yang terjangkau. "Kita ada skema-skema nanti... tukar tambah motor yang lama dapat motor baru, ya tambah dikit lah," ujar Prabowo. Kebijakan ini menjadi jawaban atas kekhawatiran masyarakat yang merasa transisi energi akan merugikan aset yang sudah dimiliki.
"Hari ini kelompok Indika telah berhasil produksi 20 ribu motor. Saya bilang ke kelompok Indika kalau kalian nanti mencapai 200 ribu saya datang lagi, 2 juta saya datang lagi." โ Presiden Prabowo Subianto
Langkah pemerintah ini mendapat sambutan positif dari pelaku industri, meski tantangan besar masih membayangi. Infrastruktur pengisian daya yang belum merata, harga baterai yang masih tinggi, dan kesiapan rantai pasok komponen dalam negeri menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan. Apakah target 2 juta unit pada akhirnya akan tercapai, atau sekadar menjadi angka ideal di atas kertas? Jawabannya akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan kolaborasi semua pemangku kepentingan.



