Cuaca Ekstrem dan AI Menguji Ketahanan Sistem Kesehatan Asia Pasifik
Baca dalam 60 detik
- Forum Parlemen Asia Pasifik di Kamboja menyoroti dampak perubahan iklim dan AI terhadap layanan kesehatan regional.
- Sekitar 600 juta orang di kawasan ini kesulitan membiayai akses kesehatan, mendorong seruan peningkatan belanja dan efisiensi.
- Adopsi AI yang tidak merata berpotensi melebarkan kesenjangan kesehatan antarnegara, menuntut regulasi seimbang.

Perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem dan perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang pesat menjadi dua tekanan terbesar bagi sistem kesehatan di Asia Pasifik. Hal ini mengemuka dalam Forum Parlemen Asia Pasifik tentang Kesehatan Global yang berlangsung di Phnom Penh, Kamboja, pekan ini. Forum tiga hari yang didukung Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) itu dihadiri perwakilan dari 16 negara dan berakhir Kamis (13/8).
Lluis Vinyals Torres, Direktur Sistem dan Layanan Kesehatan WHO untuk Pasifik Barat, mengungkapkan bahwa sekitar 600 juta orang di kawasan ini mengalami kesulitan finansial saat mengakses layanan kesehatan. Ia menekankan bahwa tantangan baru seperti penuaan populasi dan pergeseran ke penyakit tidak menular semakin menekan sistem kesehatan. "Kami mencoba menyusun agenda melalui regulasi, pengaturan anggaran, dan pengawasan untuk membantu negara-negara bergerak lebih cepat menuju cakupan kesehatan universal," ujarnya di sela-sela forum.
Torres menilai belanja kesehatan di kawasan ini masih jauh di bawah rata-rata negara OECD. Namun, ia menggarisbawahi bahwa menambah anggaran saja tidak cukup. "Ini bukan soal lebih banyak uang, melainkan soal penargetan yang lebih baik dan mekanisme pembayaran yang mengarahkan penyedia layanan untuk lebih melindungi dan meningkatkan akses masyarakat," katanya. Pernyataan ini relevan bagi Indonesia yang tengah mendorong transformasi sistem kesehatan nasional.
Perubahan iklim menambah beban baru. Gelombang panas, banjir, dan badai semakin sering melanda, memicu penyakit terkait suhu dan mengubah pola penyakit menular. Michelle Isles, CEO Climate and Health Alliance dari Australia, menegaskan bahwa perubahan iklim adalah isu kesehatan. "Dari topan hingga cuaca ekstrem lainnya, dan di dekat khatulistiwa, panas ekstrem berdampak pada kesehatan masyarakat," jelasnya. Paparan suhu tinggi berkepanjangan dapat menekan organ vital, terutama pada anak-anak, lansia, dan ibu hamil, sementara banjir memperparah penyebaran penyakit bawaan air.
Selain meningkatkan permintaan layanan, perubahan iklim juga mengganggu kemampuan sistem kesehatan dalam memberikan pelayanan. Torres mencontohkan banyak fasilitas kesehatan di Pasifik yang berada di dekat pantai, rentan terhadap naiknya permukaan laut. Adaptasi membutuhkan investasi besar, terutama bagi negara berpendapatan rendah dan menengah, namun masih ada kesenjangan antara ketersediaan pembiayaan iklim global dan akses negara terhadap dana tersebut. Isles pun mendorong pendekatan pencegahan. "Pencegahan adalah kuncinya. Kita perlu pendekatan kesehatan dalam semua kebijakan," tegasnya.
AI menjadi fokus lain forum. Hiromasa Okayasu, Direktur Data, Strategi, dan Inovasi WHO untuk Pasifik Barat, menyebut AI telah membantu dokter dalam catatan medis, diagnosis, dan pengambilan keputusan klinis. Manfaat utamanya adalah mengurangi waktu administratif sehingga dokter dan perawat bisa lebih fokus pada pasien. AI juga dapat meningkatkan akses di daerah terpencil melalui triase otomatis yang menganalisis tanda vital. Namun, adopsi AI masih timpang. "Jika kita tidak melakukan apa pun, kesenjangan ini akan semakin melebar," kata Okayasu. Ia menekankan pentingnya validasi lokal karena AI hanya sebagus data yang melatihnya.
Okayasu menambahkan tantangan kebijakan adalah menemukan keseimbangan antara regulasi yang berlebihan dan pengawasan yang longgar. Negara dengan sumber daya terbatas bisa memulai dengan aplikasi berisiko rendah dan berdampak tinggi sambil membangun tata kelola. Yang terpenting, tanggung jawab akhir tetap pada profesional kesehatan. "Sistem AI ini untuk mendukung tenaga kesehatan manusia. Sangat penting memastikan manusia memiliki keputusan final," tegasnya.
Bagi Indonesia, forum ini memberikan pelajaran berharga. Dengan populasi besar dan geografi kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan serupa: perubahan iklim, kesenjangan akses, dan kesiapan menghadapi AI. Menteri Kesehatan Kamboja, Chheang Ra, mengingatkan bahwa tidak ada negara yang bisa melindungi warganya sendirian. "Tantangan kesehatan melintasi batas, maka respons kita juga harus melintasi batas," ujarnya. Kerja sama regional dan pertukaran informasi menjadi kunci, termasuk dalam pelatihan tenaga kesehatan dan deteksi wabah.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana negara-negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia, dapat mengintegrasikan adaptasi iklim dan AI ke dalam kebijakan kesehatan nasional tanpa meninggalkan kelompok rentan. Akankah forum ini melahirkan komitmen konkret atau hanya menjadi wacana tahunan? Waktu yang akan menjawab.



