Kebakaran Feri di Selat Lombok: 5 Penumpang Masih Hilang, 211 Selamat
Baca dalam 60 detik
- Operasi pencarian di Selat Lombok berlanjut untuk lima penumpang yang belum ditemukan pasca kebakaran feri rute Bali-Lombok.
- Sebanyak 211 orang berhasil dievakuasi, sementara satu wanita muda ditemukan tewas; insiden ini menambah daftar panjang kecelakaan laut di Indonesia.
- Rendahnya standar keselamatan dan cuaca ekstrem menjadi sorotan utama, mendesak evaluasi menyeluruh terhadap transportasi laut nasional.

Lima penumpang masih dinyatakan hilang setelah kapal feri yang tengah berlayar dari Bali menuju Lombok dilalap api di perairan Selat Lombok, Rabu (12/8) dini hari. Tim pencarian dan pertolongan gabungan terus menyisir lokasi kejadian pada Kamis (13/8), sementara 211 orang lainnya berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Seorang perempuan berusia 19 tahun ditemukan tewas, menjadikan insiden ini salah satu kecelakaan laut terbaru yang mengguncang sektor transportasi maritim Indonesia.
Kantor Pencarian dan Pertolongan Mataram di Pulau Lombok mengonfirmasi bahwa fokus operasi kini diarahkan untuk menemukan lima penumpang yang belum diketahui nasibnya. Berbagai kapal, termasuk kapal milik angkatan laut dan feri lain yang kebetulan melintas, dikerahkan untuk menjangkau titik kejadian. Dalam pernyataan resminya, pihak berwenang juga mengimbau kapal-kapal yang melintasi Selat Lombok untuk melaporkan segera jika menemukan tanda-tanda korban.
Kesaksian para penyintas menggambarkan kepanikan yang melanda saat api mulai membesar. Kiky Okta Pradika, salah satu penumpang yang selamat, menuturkan bahwa ia sempat meraih jaket keselamatan sebelum melompat ke laut bersama beberapa penumpang lain. Namun, pertolongan baru tiba setelah beberapa jam kemudian. Penumpang lain, Sutrisna, mengisahkan proses evakuasi yang berlangsung sulit karena ombak besar, bahkan saat kapal penyelamat tiba, kondisi laut justru semakin ganas.
Insiden ini kembali menyoroti lemahnya standar keselamatan pelayaran di Indonesia, negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau yang sangat bergantung pada transportasi laut. Kecelakaan kapal feri bukanlah hal baru; pekan sebelumnya, lima orang tewas dalam kebakaran feri di perairan Jawa. Bulan lalu, sebuah kapal yang mengangkut lebih dari 70 penumpang tenggelam di dekat Selayar, Sulawesi Selatan, menewaskan empat orang dan meninggalkan 14 lainnya yang hingga kini masih dinyatakan hilang.
Para pengamat transportasi menilai bahwa akar masalahnya terletak pada penegakan regulasi yang longgar dan minimnya inspeksi rutin terhadap kelayakan kapal. Kondisi cuaca yang tidak menentu di perairan Indonesia kerap menjadi pemicu utama, namun tanpa standar keselamatan yang ketat, risiko kecelakaan akan terus membayangi. Pemerintah sebenarnya telah berupaya memperbaiki sistem keselamatan pelayaran, namun implementasi di lapangan masih jauh dari harapan.
Bagi warga yang setiap hari mengandalkan kapal feri untuk mobilitas, insiden ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya keselamatan. Banyak yang mempertanyakan mengapa kapal dengan penumpuk penuh masih diizinkan berlayar dalam kondisi cuaca buruk. Pertanyaan yang lebih mendasar: apakah regulasi yang ada sudah cukup ketat, atau justru perlu ada terobosan baru dalam pengawasan dan penegakan hukum di sektor maritim?
Operasi pencarian lima korban hilang masih berlangsung, dan setiap jam menjadi krusial. Di tengah duka dan kekhawatiran, publik menanti jawaban dari pihak berwenang: akankah insiden ini menjadi momentum untuk membenahi keselamatan pelayaran nasional, atau hanya akan menjadi catatan kelam lain yang terlupakan?



