Ingebrigtsen Kecam Kerr yang Absen di Eropa: 'Merusak Olahraga Ini'
Baca dalam 60 detik
- Pelari Norwegia Jakob Ingebrigtsen meluapkan kekecewaannya atas absennya Josh Kerr di Kejuaraan Eropa, menyebutnya sebagai tindakan yang merusak kredibilitas atletik.
- Kerr, yang memecahkan rekor dunia mil di Glasgow, memilih fokus pada balapan bergengsi lain, memicu perdebatan tentang prioritas atlet antara rekor dan gelar.
- Pernyataan Ingebrigtsen menyoroti ketegangan yang semakin memanas antara dua rival terbesar di lari jarak menengah, dengan implikasi bagi persaingan menuju Olimpiade Los Angeles 2028.

Jakob Ingebrigtsen, pelari jarak menengah asal Norwegia yang baru saja merebut emas 5.000 meter di Kejuaraan Eropa, melontarkan kritik tajam kepada rivalnya asal Inggris, Josh Kerr. Ingebrigtsen menilai keputusan Kerr untuk absen dari ajang tersebut sebagai tindakan yang 'merusak' olahraga atletik, karena para atlet top justru memilih menghindari kompetisi bergengsi demi mengejar rekor atau balapan komersial.
Kritik ini muncul setelah Kerr, yang bulan lalu memecahkan rekor dunia satu mil yang bertahan 27 tahun, memilih untuk tidak tampil di Birmingham. Kerr beralasan Kejuaraan Eropa tidak masuk dalam rencana musimnya, namun Ingebrigtsen menilai seharusnya atlet sekaliber Kerr bisa menyisipkan ajang tersebut dalam kalender mereka. "Saya sangat kecewa, dan saya pikir banyak orang seharusnya juga," ujarnya, menegaskan bahwa kejuaraan adalah panggung bagi para atlet terbaik untuk beradu, bukan sekadar ajang seleksi.
Bagi Ingebrigtsen, kehadiran atlet top seperti Kerr adalah esensi dari kejuaraan. "Bukan untuk atlet memilih hampir di mana harus berpartisipasi. Kami memiliki kejuaraan ini untuk suatu alasan, dan itu adalah untuk atlet terbaik bersaingโitu intinya," tegasnya. Pernyataan ini menegaskan pandangannya bahwa absennya bintang-bintang besar hanya akan mengurangi daya tarik dan kredibilitas kompetisi, sebuah kekhawatiran yang juga relevan bagi perkembangan atletik di Asia, termasuk Indonesia.
Persaingan Kerr dan Ingebrigtsen memang telah menjadi salah satu narasi paling menarik dalam atletik dunia. Sejak Kerr merebut perunggu Olimpiade 1500m di belakang Ingebrigtsen lima tahun lalu, keduanya terus saling berbalas sindiran. Puncaknya saat Kerr mengalahkan Ingebrigtsen di Kejuaraan Dunia Budapest 2023, memicu duel yang sangat dinanti di Olimpiade Paris 2024. Namun, di Paris, keduanya justru dikalahkan oleh Cole Hocker dari Amerika Serikat, yang merebut emas dengan kejutan.
Setelah cedera Achilles yang memaksanya absen 11 bulan, Ingebrigtsen kembali dengan gemilang. Kemenangannya di Kejuaraan Eropa pekan ini menandai gelar Eropa ketujuh, rekor baru, dan gelar mayor internasional ke-20 sejak 2018. Meski demikian, ia tetap mengakui kualitas Kerr. "Itu balapan yang sangat bagus, performa yang sangat kuat," pujinya tentang rekor mil Kerr. Namun, ia dengan tegas menolak gagasan bahwa rekor lebih penting daripada gelar. "Saya pikir keduanya sama besar, tapi bukan berarti kita hanya punya satu balapan di kaki kita," katanya, menambahkan bahwa atlet profesional seharusnya bisa menyeimbangkan antara mengejar waktu dan meraih gelar.
Kritik Ingebrigtsen juga menyentuh isu yang lebih luas tentang komersialisasi atletik. Dengan semakin banyaknya balapan bergengsi seperti Diamond League yang menawarkan hadiah besar, beberapa atlet memilih untuk fokus pada ajang tersebut daripada kejuaraan tradisional. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Eropa, tetapi juga berpotensi memengaruhi atlet-atlet Asia, termasuk Indonesia, yang mulai menunjukkan peningkatan prestasi di kancah internasional. Jika tren ini berlanjut, kejuaraan seperti Asian Games atau SEA Games bisa kehilangan daya tariknya jika atlet top memilih untuk absen.
Persaingan antara Kerr dan Ingebrigtsen diperkirakan akan terus memanas, terutama dengan Olimpiade Los Angeles 2028 yang sudah di depan mata. Pertanyaan besarnya adalah: apakah kedua atlet ini akan mampu menempatkan kepentingan olahraga di atas ambisi pribadi? Atau justru persaingan ini akan semakin memecah belah dunia atletik? Yang jelas, pernyataan Ingebrigtsen telah membuka kembali diskusi tentang apa yang seharusnya menjadi prioritas seorang atlet: rekor, gelar, atau mungkin keduanya.



