Perdagangan Daging Kucing di Indochina: Antara Mitos, Tradisi, dan Ancaman Kesehatan Publik
Baca dalam 60 detik
- Di Vietnam, sekitar satu juta kucing dibunuh setiap tahun untuk diperdagangkan secara ilegal, didorong kepercayaan bahwa daging kucing membawa keberuntungan dan khasiat obat.
- Organisasi FOUR PAWS mencatat kucing dicuri dari rumah dan jalanan, dengan harga jual daging kucing mencapai 12 dolar AS per kilogram, terutama kucing hitam yang dianggap lebih berkhasiat.
- Meski mayoritas masyarakat Vietnam menolak praktik ini, belum ada larangan nasional, sementara perdagangan lintas batas meningkatkan risiko penyebaran rabies dan penyakit zoonosis.

Kepercayaan takhayul yang mengaitkan konsumsi daging kucing dengan keberuntungan dan manfaat medis masih menjadi pendorong utama perdagangan gelap yang kejam di kawasan Indochina. Organisasi kesejahteraan hewan global FOUR PAWS memperkirakan bahwa sekitar satu juta kucing dibantai setiap tahunnya di Vietnam saja, sementara jumlah yang lebih kecil juga dibunuh di daerah terpencil Kamboja dan Laos.
Menurut Jon Rosen Bennett, pengawas isu kesejahteraan anjing dan kucing di FOUR PAWS, daging kucing umumnya dikonsumsi karena alasan budaya, tradisi, atau sosial, bukan sebagai bahan pangan pokok. "Di beberapa bagian Asia Tenggara, daging kucing secara historis dikaitkan dengan kepercayaan tentang keberuntungan dan nasib baik," ujarnya. Di Vietnam, sebagian orang percaya bahwa memakan daging kucing pada waktu tertentu dalam bulan lunar dapat membawa keberuntungan atau membalikkan nasib buruk, serta memiliki khasiat kesehatan.
Perdagangan ini kembali mencuat setelah polisi di Kota Ho Chi Minh membongkar sindikat penyelundupan kucing antarprovinsi dan menyelamatkan sekitar 500 ekor kucing. Sembilan anggota geng ditahan atas dugaan mencuri dan menjual kucing selama tiga tahun terakhir. Meski demikian, belum ada larangan nasional terhadap pemotongan, penjualan, atau konsumsi daging kucing di Vietnam. Bennett menekankan bahwa mayoritas masyarakat di kawasan itu tidak mengonsumsi daging kucing. "Di Vietnam, hampir 90 persen orang mengatakan mereka akan mendukung larangan perdagangan daging anjing dan kucing. Lebih dari 90 persen tidak menganggapnya sebagai bagian dari budaya Vietnam," katanya.
Selain kekejaman terhadap hewan, perdagangan ini juga menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Pergerakan hewan secara massal tanpa dokumen melintasi perbatasan berpotensi menyebarkan rabies dan penyakit zoonosis lainnya. Di Indonesia, praktik serupa tidak lazim, namun kasus penyelundupan hewan ilegal dan konsumsi daging anjing di beberapa daerah seperti Tomohon dan Manado masih menjadi perhatian. Pemerintah Indonesia telah melarang peredaran daging anjing di pasar tradisional, tetapi penegakan hukum masih lemah. Kasus di Vietnam menjadi pengingat bahwa mitos dan tradisi dapat bertahan meskipun kampanye kesadaran telah berlangsung puluhan tahun.
Pada awal Juni lalu, FOUR PAWS meluncurkan platform pelaporan publik online sebagai bagian dari kampanye melawan perdagangan anjing dan kucing di Kamboja. Organisasi itu berharap platform tersebut dapat membantu mengidentifikasi dan menghentikan praktik ilegal. Pertanyaannya, akankah tekanan publik dan intervensi hukum mampu mengikis kepercayaan yang sudah mengakar, atau justru perdagangan ini akan terus bergerak ke bawah tanah?



