Samurai Blue Mania: Osaka Restaurants Sajikan Menu Khas Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Kafe dan restoran di Osaka merilis menu bertema Samurai Blue untuk mendukung timnas Jepang di Piala Dunia 2026.
- Menu unik seperti kaitenyaki biru dan minuman fermentasi berwarna negara lawan dijual dengan harga terjangkau.
- Inisiatif ini menggabungkan semangat olahraga dengan kuliner lokal, menciptakan pengalaman menonton yang lebih meriah.

Osaka, Jepang, menjadi pusat perayaan bagi para pendukung Samurai Blue menjelang Piala Dunia 2026. Sejumlah restoran dan kafe di kota ini meluncurkan menu spesial bertema tim nasional Jepang, mulai dari kue pancake biru terang hingga minuman fermentasi berwarna-warni yang mewakili lawan di fase grup.
Setelah Jepang bermain imbang 2-2 melawan Belanda dan menekuk Tunisia 4-0 pada 21 Juni, geliat dukungan semakin terasa. Para pelaku usaha kuliner pun tak ingin ketinggalan. Mereka mengajak pelanggan untuk 'makan, minum, dan bersorak' sambil menonton pertandingan.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah kafe Komagawa Tetto di Higashisumiyoshi Ward. Tempat yang juga menyediakan dukungan kerja bagi penyandang disabilitas ini menjual kaitenyaki—pancake manis khas Jepang—berwarna biru menyala dengan isian pasta kacang merah. Produk bernama 'Aoi Komeyan' ini dijual seharga 180 yen (sekitar Rp20.000) per buah. Untuk menambah semangat sepak bola, satu paket berisi 11 buah—sesuai jumlah pemain di lapangan—dibanderol 1.100 yen (sekitar Rp125.000).
Tak hanya kue, inovasi juga datang dari fermentation cafeteria 'Hakko Shokudo Hasshoku' cabang Hilton Plaza East Osaka. Mereka menyajikan 'Samurai Drinks'—minuman berbasis koji amazake (minuman beras fermentasi) yang diberi topping buah dan es krim vanila. Tersedia tiga varian warna: oranye (Belanda), merah (Tunisia), dan biru (Swedia). Menurut Kentaro Kameoka, presiden perusahaan pengelola, minuman ini diharapkan menjadi sarana pertukaran budaya. "Piala Dunia adalah kesempatan untuk berinteraksi secara internasional. Saya ingin orang-orang membandingkan minuman ini dan memikirkan negara lawan," ujarnya.
Fenomena serupa sebenarnya bisa menjadi inspirasi bagi Indonesia, yang juga memiliki basis penggemar sepak bola besar. Di tanah air, momen Piala Dunia sering dimanfaatkan restoran dan kafe untuk menghadirkan menu spesial, seperti nasi goreng bendera atau minuman berwarna merah-putih. Namun, pendekatan yang lebih kreatif dan tematik—seperti yang dilakukan Osaka—bisa meningkatkan daya tarik dan pengalaman pelanggan. Apalagi, Indonesia tengah gencar mengembangkan pariwisata kuliner.
Dengan semangat Samurai Blue yang kental, Osaka membuktikan bahwa kuliner bisa menjadi medium dukungan yang unik. Pertanyaannya, akankah tren serupa menjalar ke kota-kota lain di dunia, termasuk Indonesia, saat Piala Dunia 2026 bergulir?



