Modric Capai 200 Laga, Kroasia di Bawah Tekanan Lawan Panama
Baca dalam 60 detik
- Luka Modric akan mencatatkan penampilan ke-200 bersama Kroasia saat menghadapi Panama di laga krusial Grup L.
- Kekalahan 4-2 dari Inggris membuat Kroasia wajib menang untuk menjaga asa lolos ke babak selanjutnya.
- Pelatih Zlatko Dalic menuntut perbaikan drastis di lini pertahanan dan mental juara timnya.

Luka Modric bersiap mengukir sejarah sebagai pemain kedua yang mencapai 200 caps untuk Kroasia, tepat saat timnya menghadapi tekanan besar melawan Panama di Toronto. Laga ini bukan sekadar perayaan pribadi, melainkan ujian kelangsungan hidup Kroasia di Grup L setelah kekalahan telak 4-2 dari Inggris pada laga pembuka.
Pelatih Zlatko Dalic tidak menutupi kekecewaannya. Ia secara blak-blakan mengakui bahwa timnya harus berbenah, terutama di sektor pertahanan yang menjadi titik lemah saat melawan Inggris. "Kami memberikan banyak hadiah kepada Inggris di pertandingan terakhir," ujar Dalic dalam konferensi pers pra-pertandingan. Ia menuntut keberanian dan determinasi tinggi dari anak asuhnya, menegaskan bahwa Kroasia adalah favorit dan harus bermain sesuai status tersebut.
Kroasia, yang menjadi runner-up Piala Dunia 2018 dan peringkat ketiga pada 2022, kini berada di posisi genting. Kehilangan poin di Toronto dapat menggagalkan langkah mereka ke babak berikutnya, apalagi setelah itu mereka harus menghadapi Ghana. Dalic menolak mencari kambing hitam. "Kami harus disalahkan atas situasi ini karena kami membuat banyak kesalahan di pertandingan pertama," katanya. Ia mengingatkan bahwa standar tinggi yang telah ditetapkan oleh generasi emas Kroasia tidak bisa dipertahankan hanya dengan mengandalkan masa lalu.
Namun, ada satu karakteristik yang selalu membedakan Kroasia: kemampuan bangkit saat terpojok. Gelandang Mateo Kovacic, yang baru pulih dari cedera panjang, menegaskan bahwa timnya justru tampil terbaik dalam situasi sulit. "Kami telah menunjukkan berkali-kali bahwa kami memainkan pertandingan terbaik saat situasi sulit. Itulah kualitas dan kebanggaan kami," ujarnya. Ia mengakui laga melawan Inggris sangat berat secara mental dan fisik, tapi yakin tim bisa meningkatkan level permainan di dua laga tersisa.
Momen spesial Modric menjadi motivasi tambahan. Bek Josip Stanisic menggambarkan pencapaian rekan setimnya sebagai sesuatu yang mustahil. "Saya hanya bisa bermimpi mencapai 100 caps, apalagi 200. Tapi Luka adalah panutan bagi kami semua, baik cara bermain maupun bersikap," kata Stanisic. Ia juga memuji kerendahan hati Modric yang tetap menjadi pribadi biasa meski sudah menjadi bintang dunia. Dalic menyebut Modric sebagai tangan kanan di lapangan, pemimpin yang tak pernah menyerah.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Kroasia ini mengingatkan pada perjuangan tim-tim yang mengandalkan semangat kolektif dan sosok senior legendaris. Modric, seperti Bambang Pamungkas atau Firman Utina di era keemasannya, menjadi jembatan antara generasi dan simbol ketangguhan mental. Pertandingan melawan Panama akan menjadi ujian apakah Kroasia masih memiliki "DNA petarung" yang sama seperti di dua turnamen sebelumnya.
Dengan segala tekanan dan sejarah yang dipertaruhkan, Kroasia harus membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tim yang hidup dari kenangan masa lalu. Mampukah Modric dan kawan-kawan mengubah tekanan menjadi kekuatan, atau justru tenggelam di bawah ekspektasi? Laga di Toronto akan memberikan jawaban pertama.



