Mesir Fokus pada Sepak Bola, Bukan Kontroversi Pride Match di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Mesir Hossam Hassan menegaskan timnya hanya fokus pada pertandingan, bukan pada kontroversi Pride Match yang diprotes oleh federasi sepak bola Mesir dan Iran.
- FIFA mengizinkan bendera pelangi di stadion, namun menyerahkan urusan di luar lapangan kepada kota tuan rumah, sementara Mesir dan Iran menolak karena kriminalisasi homoseksualitas di negara mereka.
- Mohamed Salah, yang tampil di posisi baru sebagai gelandang serang, menjadi andalan Mesir dalam laga penentu Grup G melawan Belgia atau Selandia Baru.

Pelatih tim nasional Mesir, Hossam Hassan, menegaskan bahwa skuadnya tidak akan terpengaruh oleh kontroversi di luar lapangan menjelang laga pamungkas Grup G Piala Dunia 2026 melawan Belgia, Jumat (27/6). Pernyataan itu muncul setelah federasi sepak bola Mesir dan Iran secara resmi memprotes keputusan panitia lokal Seattle yang menetapkan pertandingan tersebut sebagai "Pride Match"โsebuah perayaan yang mendukung komunitas LGBTQ+.
Bagi Mesir dan Iran, homoseksualitas masih dikriminalisasi secara hukum. Protes diajukan sejak pengundian grup pada Desember lalu, namun FIFA menegaskan bahwa acara di luar stadion sepenuhnya menjadi kewenangan kota tuan rumah. Badan sepak bola dunia itu juga telah mengonfirmasi bahwa penggemar boleh membawa bendera pelangi ke dalam stadion. Situasi ini menempatkan kedua tim dalam posisi diplomatik yang rumit, mengingat nilai-nilai yang dianut negara mereka bertolak belakang dengan simbolisme Pride.
Hassan, yang juga legenda sepak bola Mesir, enggan berkomentar panjang lebar mengenai perayaan Pride yang bertepatan dengan pertandingan. "Kami hanya peduli pada sepak bola di lapangan. Kami menghormati aturan fair play dan pedoman yang ditetapkan FIFA," ujarnya dalam konferensi pers di Seattle, Kamis (26/6). Ia menambahkan bahwa Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) yang menangani urusan organisasi, sementara tim fokus pada target lolos ke babak berikutnya.
Kontroversi ini mengingatkan pada dinamika serupa di Piala Dunia 2022 Qatar, di mana isu hak LGBTQ+ menjadi sorotan global. Bagi Indonesia, yang juga memiliki undang-undang kontroversial terkait orientasi seksual, kasus ini bisa menjadi cermin bagaimana negara dengan nilai konservatif menghadapi tekanan internasional di panggung olahraga. Meski tidak ada tim Indonesia di turnamen ini, isu ini relevan mengingat Indonesia pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 dan kerap menghadapi dilema serupa antara nilai lokal dan standar global.
Di sisi lain, Hassan menolak mengomentari pernyataan pelatih Iran, Amir Ghalenoei, yang menyebut timnya sebagai "tim paling tertindas" di turnamen akibat pembatasan perjalanan yang sempat diberlakukan. "Setiap tim berhak mendapat perlakuan setara. FIFA berupaya keras memberikan kesempatan yang sama untuk semua," kata Hassan diplomatis.
Di dalam lapangan, perhatian publik tertuju pada Mohamed Salah. Kapten Mesir itu tampil gemilang di posisi baru sebagai gelandang serang dalam kemenangan 2-1 atas Selandia Baru. Hassan menyebutnya sebagai "versi baru Mohamed Salah" yang lebih kreatif dan bebas bergerak. "Kami tidak menggantungkan segalanya pada satu atau dua bintang. Tapi Mo bermain sangat bebas dan itu menguntungkan tim," jelasnya.
Dengan satu gol lagi, Salah akan menyamai rekor Hassan sebagai pencetak gol terbanyak Mesir. Namun, Hassan menekankan bahwa laga melawan Belgia adalah pertandingan berisiko tinggi yang membutuhkan kontribusi seluruh pemain, bukan hanya sang kapten.
Pertandingan Jumat nanti tidak hanya menentukan nasib Mesir di Piala Dunia, tetapi juga menjadi ujian bagaimana sepak bola bisa tetap menjadi jembatan di tengah perbedaan nilai yang tajam. Mampukah Mesir dan Iran menjaga fokus pada permainan, atau justru kontroversi di luar lapangan yang akan mendominasi?



