Di Ambang Pemecatan, Sebastian Beccacece Balas Dendam ke Jerman dan Bawa Ekuador ke Fase Gugur Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Sebastian Beccacece nyaris dipecat setelah hasil buruk, namun kemenangan dramatis 2-1 atas Jerman memastikan Ekuador lolos ke babak 16 besar untuk kedua kalinya dalam sejarah.
- Ekuador memulai turnamen dengan kekalahan dari Pantai Gading dan hasil imbang tanpa gol melawan Curacao, memicu kemarahan suporter dan spekulasi pemecatan.
- Kemenangan ini tidak hanya menyelamatkan karir Beccacece tetapi juga menandai pencapaian terbesar dalam sejarah sepak bola Ekuador, dengan potensi menghadapi Inggris di fase selanjutnya.

Pelatih asal Argentina, Sebastian Beccacece, nyaris kehilangan pekerjaannya setelah serangkaian hasil buruk di Piala Dunia 2026, namun kemenangan dramatis 2-1 atas Jerman di laga pamungkas grup tidak hanya menyelamatkan karirnya tetapi juga mengantarkan Ekuador ke babak gugur untuk kedua kalinya dalam sejarah keikutsertaan mereka.
Beccacece, yang mengambil alih tim pada Agustus 2024, menghadapi tekanan luar biasa setelah Ekuador hanya meraih satu poin dari dua pertandingan pertama. Kekalahan 1-0 dari Pantai Gading diikuti hasil imbang tanpa gol melawan Curacao, tim debutan yang dianggap lemah, memicu kemarahan suporter. Bahkan, dilaporkan terjadi keributan verbal antara anggota keluarga Beccacece dan para penggemar usai laga kontra Curacao. Pelatih berusia 45 tahun itu pun mengakui bahwa ia siap mundur jika gagal membawa timnya melangkah lebih jauh.
"Kami punya kesempatan untuk maju, dan jika tidak berhasil, saya harus meninggalkan tempat yang sangat saya cintai. Saya tahu semuanya soal hasil," ujar Beccacece dalam konferensi pers sebelum pertandingan melawan Jerman, seperti dikutip BBC. Namun, tekad baja anak asuhnya berbuah manis. Mereka tampil agresif, berani mengambil risiko, dan akhirnya menundukkan juara dunia empat kali tersebut. Mantan kapten Inggris Alan Shearer menilai kemenangan ini sepenuhnya berkat reaksi luar biasa dari para pemain. "Jika Ekuador tidak menang, dia pasti sudah dipecat. Dia pantas mendapatkannya," kata Shearer.
Perjalanan Ekuador menuju Piala Dunia 2026 sendiri penuh liku. Mereka memulai kualifikasi dengan pengurangan tiga poin akibat kasus pemain ilegal Byron Castillo pada 2022. Pelatih sebelumnya, Felix Sanchez, dipecat setelah kalah adu penalti dari Argentina di Copa America 2024. "Mereka memperlakukan pelatih dengan sangat keras," ujar pakar sepak bola Amerika Selatan, Tim Vickery. Beccacece kemudian diangkat dan langsung menghadapi ujian berat: kalah 1-0 dari Brasil di laga perdananya. Namun, ia berhasil membalikkan keadaan dengan catatan tak terkalahkan dalam 11 pertandingan berikutnya, membawa Ekuador lolos sebagai runner-up.
Meski datang dengan rekor 19 laga tanpa kekalahan, awal turnamen justru mengecewakan. Beccacece sempat mengakui bahwa ia gagal menyentuh hati para penggemar. "Saya minta maaf tidak bisa masuk ke hati suporter Ekuador. Ada sesuatu yang tidak mereka sukai dari saya," katanya. Namun, kemenangan atas Jerman seolah menjadi titik balik. Pelatih yang memulai karir sebagai asisten Jorge Sampaoli di masa kejayaan Chile (Piala Dunia 2014 dan Copa America 2015) itu kini mencatatkan prestasi terbesarnya sebagai pelatih kepala.
Bagi Indonesia, kisah Beccacece memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesabaran dan kepercayaan terhadap proses. Di tengah budaya sepak bola yang kerap menuntut hasil instan, perjalanan Ekuador menunjukkan bahwa tekanan ekstrem justru bisa memicu kebangkitan spektakuler. Timnas Indonesia, yang tengah membangun fondasi menuju Piala Dunia 2034, dapat menimba inspirasi dari kegigihan La Tri dalam mengatasi krisis.
Kini, Ekuador berpeluang bertemu Inggris di babak 16 besar—sebuah ulangan dari pertemuan 2006 saat David Beckham menjatuhkan mereka melalui tendangan bebas. Namun, dengan skuad yang lebih matang dan semangat juang yang membara, Beccacece optimistis. "Saya ingin orang-orang jatuh cinta dengan para pemain ini. Tim Ekuador membuat orang jatuh cinta. Lalu kita lihat sejauh mana kami melangkah," ujarnya. Vickery menambahkan, "Ini adalah momen terbesar dalam sejarah tim nasional Ekuador. Mereka telah menggali diri dari lubang yang dalam. Saya tak bisa membayangkan ada yang bisa menandingi ini."



