Penembakan di Montreal Tewaskan Tiga Orang, Polisi Selidiki Motif Incel
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria bersenjata menembaki warga dan polisi di lingkungan Côte-des-Neiges, Montreal, menewaskan seorang perwira polisi, seorang warga sipil, dan pelaku sendiri.
- Media lokal melaporkan pelaku terkait dengan ideologi 'incel', sebuah gerakan misoginis yang pernah memicu serangan fatal di Toronto pada 2018.
- Polisi masih menyelidiki apakah insiden ini merupakan kejahatan kebencian atau aksi teror, sementara komunitas Yahudi setempat waspada mengingat lokasi kejadian di lingkungan dengan banyak institusi Yahudi.

Seorang pria bersenjata menembaki warga dan petugas kepolisian di kawasan Côte-des-Neiges, Montreal, pada Senin (22/6) siang waktu setempat, menewaskan tiga orang termasuk seorang perwira polisi dan seorang warga sipil, sebelum akhirnya ditembak mati oleh aparat. Insiden yang berlangsung sekitar pukul 11.30 itu sontak mengguncang kota yang jarang mengalami kekerasan bersenjata di siang bolong.
Kepala Kepolisian Montreal, Fady Dagher, menyebut peristiwa ini sebagai “tragedi dan mimpi buruk”. Menurut Dagher, petugas menerima laporan adanya penembakan aktif di lingkungan yang dikenal memiliki banyak pasar dan restoran halal tersebut. Saat polisi tiba, pelaku melepaskan tembakan dari dalam sebuah gedung menggunakan senjata laras panjang. Seorang perwira pria tewas di tempat, sementara seorang perwira wanita luka parah namun tidak mengancam jiwa.
Laporan dari penyiar publik Radio Canada mengaitkan pelaku dengan ideologi “incel” (involuntary celibate), sebuah pandangan misoginis yang mendorong kebencian terhadap perempuan. Ideologi yang sama diduga menjadi motif di balik serangan penabrakan kendaraan di Toronto pada 2018 yang menewaskan 10 orang. Hingga berita ini diturunkan, polisi belum mengonfirmasi motif tersebut dan menolak berspekulasi apakah insiden ini merupakan kejahatan kebencian atau aksi teror.
Lokasi penembakan yang berada di lingkungan dengan komunitas Yahudi yang signifikan memicu spekulasi di media sosial bahwa ini adalah serangan antisemit. Sejak konflik Gaza pecah pada Oktober 2023, Kanada mencatat lonjakan kejahatan yang menargetkan warga Yahudi. Namun, Rabbi Getzy Markowitz, yang bertugas di daerah tersebut, mengingatkan agar tidak terburu-buru menyimpulkan. “Orang bertanya apakah ini serangan terhadap komunitas Yahudi. Saya pikir sangat tidak bertanggung jawab untuk membahas itu sekarang, karena yang kita tahu adalah ini serangan terhadap polisi,” ujarnya.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan dirinya “sangat terguncang” oleh kekerasan tersebut. Sementara itu, Perdana Menteri Quebec Christine Frechette meminta publik untuk menghindari spekulasi. Kawasan sekitar sempat ditutup total, namun lalu lintas mulai kembali normal pada sore hari. Polisi masih mengumpulkan bukti dan belum mengumumkan identitas pelaku maupun korban sipil.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa radikalisasi berbasis gender seperti ideologi incel dapat memicu kekerasan massal di negara mana pun. Meskipun fenomena incel belum menonjol di Indonesia, pola misogini dan kebencian terhadap perempuan yang melatarbelakangi ideologi ini juga ditemukan dalam berbagai bentuk kekerasan domestik dan siber di tanah air. Penguatan literasi digital dan deteksi dini terhadap konten ekstremis di media sosial menjadi langkah antisipatif yang relevan.
Ke depan, investigasi akan menentukan apakah insiden ini memang dimotivasi oleh ideologi incel atau faktor lain. Pertanyaan yang masih menggantung: sejauh mana jaringan ideologi semacam ini telah menyebar di Kanada, dan apakah penegak hukum sudah memiliki strategi yang memadai untuk mencegah serangan serupa?



