Larangan Medsos Anak di Australia Gagal? 85% Remaja Masih Akses, Tapi Ini yang Sebenarnya Diukur
Baca dalam 60 detik
- Enam bulan setelah larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun berlaku di Australia, lebih dari 85% remaja masih mengakses platform seperti TikTok dan Instagram, menurut studi terbaru di British Medical Journal.
- Para peneliti menilai kegagalan jangka pendek ini wajar; larangan dirancang sebagai strategi generasional seperti pengendalian tembakau, bukan solusi instan.
- Dampak nyata baru bisa terlihat dalam satu dekade, terutama pada anak di bawah delapan tahun yang belum terpapar media sosial.

Enam bulan setelah Australia memberlakukan larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun, data terbaru menunjukkan bahwa aturan tersebut belum mampu menghentikan kebiasaan daring remaja. Sebuah studi yang diterbitkan di British Medical Journal pada Rabu (24/6) mengungkapkan bahwa lebih dari 85 persen remaja usia 12–16 tahun masih mengakses platform seperti TikTok, X, Facebook, dan Instagram, sebagian besar melalui akun mereka sendiri.
Penelitian yang dipimpin Courtney Barnes dari University of Newcastle ini melibatkan 408 remaja yang disurvei sebelum undang-undang berlaku pada Desember 2025 dan tiga bulan setelahnya. Dengan membandingkan kelompok usia tepat di bawah dan di atas batas 16 tahun, tim peneliti ingin mengisolasi efek larangan. Hasilnya, tidak ada perbedaan signifikan dalam frekuensi penggunaan media sosial antara kedua kelompok. Sekitar dua pertiga responden mengaku pernah menghadapi verifikasi usia, namun bentuknya paling sering hanya diminta menyebutkan usia—bukan pemeriksaan teknis yang ketat. Hanya sedikit yang menggunakan VPN atau akun palsu untuk menghindari aturan.
Temuan ini selaras dengan laporan eSafety Commissioner Australia yang menyebutkan bahwa sekitar tujuh dari sepuluh anak tetap mempertahankan akun mereka setelah larangan berlaku. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa studi mereka memiliki keterbatasan, termasuk jumlah sampel yang kecil di kedua sisi batas usia, sehingga mungkin tidak cukup kuat untuk mendeteksi perubahan kecil.
Meski angka-angka itu tampak mengecewakan, Samuel Cornell, peneliti kehormatan di University of Queensland, berpendapat bahwa pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apakah larangan itu gagal, melainkan apakah kita mengukurnya dengan tolok ukur yang benar. Menurut Cornell, larangan ini tidak dirancang untuk menghentikan semua remaja saat ini secara instan—ia menyebutnya sebagai "mimpi yang tidak realistis". Sebaliknya, aturan ini memberi pemerintah alat untuk menekan perusahaan media sosial agar mematuhi arahan, serta membingkai ulang norma sosial dalam jangka panjang.
Cornell membandingkan logika larangan ini dengan pendekatan generasional pada pengendalian tembakau. Inggris, misalnya, baru saja mengesahkan Tobacco and Vapes Act yang melarang penjualan rokok kepada siapa pun yang lahir setelah 1 Januari 2009. Tujuannya bukan membuat perokok saat ini berhenti, melainkan membesarkan generasi yang tidak menganggap merokok sebagai hal normal. Australia bertaruh serupa: jika akses ke media sosial ditunda cukup lama, daya tariknya terhadap masa kanak-kanak bisa memudar, seperti yang terjadi pada rokok.
Namun, ada kelemahan dalam analogi ini. Tembakau telah ditekan dari berbagai sisi selama puluhan tahun: harga tinggi, kemasan polos, larangan iklan. Media sosial, sebaliknya, gratis, hampir tak terbatas, dan dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna. Mengubah norma generasi hanya akan berhasil jika tekanan terhadap platform berlangsung tanpa henti selama bertahun-tahun, bukan ditinggalkan begitu muncul pemberitaan pertama yang menyebutnya gagal.
Peneliti juga mencatat bahwa larangan semacam ini bisa menimbulkan konsekuensi tak terduga. Seperti halnya kewajiban helm sepeda di Australia pada 1990-an yang membuat sebagian orang bersepeda lebih jarang, larangan media sosial mendorong sebagian remaja beralih ke akun palsu, peramban pribadi, atau aplikasi pesan yang lebih sulit diawasi. Namun, Cornell menekankan bahwa hal itu bukan berarti larangan gagal—melainkan kita menilainya dalam kerangka waktu yang tidak sesuai dengan desainnya.
Peluang terbesar, menurut para peneliti, justru ada pada anak-anak di bawah delapan tahun yang belum mulai menggunakan media sosial. Bagi mereka, larangan ini bisa mencegah terbentuknya kebiasaan sejak awal. Efek penuh dari kebijakan ini, menurut perkiraan mereka, baru akan terlihat dalam satu dekade. Australia telah menjadi uji coba global, dengan sejumlah negara mulai mengikuti jejaknya. Pertanyaan yang tersisa: apakah dunia sabar menunggu hasilnya, atau akan terburu-buru menyimpulkan kegagalan?



