Menangis Bayi Kini Bisa Diterjemahkan AI: Aplikasi Jepang Bantu Orangtua Baru
Baca dalam 60 detik
- Aplikasi AI asal Jepang, Babylingual dan Awababy, mampu mengidentifikasi penyebab tangis bayi seperti lapar atau tidak nyaman.
- Teknologi ini dikembangkan untuk mengurangi kecemasan orangtua, terutama di tengah tren keluarga inti yang minim dukungan kerabat.
- Pemerintah daerah Jepang mulai mengadopsi layanan ini dalam program dukungan pengasuhan anak dan kesejahteraan ibu.

Tangisan bayi yang tak kunjung reda kerap menjadi momok bagi orangtua baru. Kini, kecerdasan buatan (AI) hadir sebagai penerjemah isyarat tangis tersebut. Sejumlah pengembang di Jepang meluncurkan aplikasi yang mampu mengartikan suara tangis bayi menjadi pesan spesifik, seperti lapar, lelah, atau bahkan perut kembung.
Salah satu aplikasi yang mencuri perhatian adalah Babylingual, dirilis pada Maret lalu oleh Moto Numazawa, seorang ayah berusia 25 tahun di Chigasaki, Kanagawa. Dalam demo yang dilakukan pada akhir April, Numazawa mendekatkan ponselnya ke putranya yang berusia tiga bulan, Saku. Beberapa detik kemudian, layar menampilkan keterangan: "Saya lapar." Disertai indikator probabilitas dan saran untuk menyusui. Setelah disusui, Saku pun tertidur pulas di pelukan ibunya, Yu.
Babylingual mengklasifikasikan tangis bayi ke dalam lima pola berdasarkan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa bayi menghasilkan vokalisasi berbeda untuk kebutuhan yang berbeda. Aplikasi ini juga memungkinkan orangtua merekam tangisan untuk dibagikan dengan pengasuh lain, serta dilengkapi panduan suara untuk menenangkan bayi. Numazawa, yang berlatar belakang komputer, merasa aplikasi semacam ini sangat dibutuhkan di Jepang yang semakin banyak keluarga inti dengan akses terbatas ke dukungan kerabat.
Sementara itu, Cross Medicine Inc., perusahaan rintisan dari Universitas Tokushima, mengembangkan Awababy. Aplikasi ini menggunakan AI yang dilatih dengan lebih dari 160.000 rekaman tangis bayi serta metode menenangkan bayi. Awababy mampu mengenali 11 emosi berbeda dan memberikan saran respons. Menurut Presiden Cross Medicine, Koga Nakai, layanan ini sangat populer digunakan pada tengah malam, saat orangtua sulit meminta saran dari orang lain. Perusahaan juga melihat potensi teknologi ini untuk mengurangi risiko depresi pascapersalinan.
Adopsi Awababy mulai merambah program dukungan pengasuhan anak pemerintah daerah dan skema tunjangan karyawan perusahaan. Pada Maret lalu, Kota Mishima di Prefektur Shizuoka mengadakan sesi uji coba untuk warga dan mulai mempertimbangkan penyediaan layanan gratis. Sementara itu, Kota Oyama di prefektur yang sama telah mulai menerbitkan ID pengguna bagi orangtua yang anaknya lahir pada 1 April atau setelahnya.
Tomomi Ohata, kepala perawat kesehatan masyarakat di divisi promosi kesehatan kota Oyama, berharap aplikasi ini dapat mendorong orangtua untuk lebih memahami perasaan bayi mereka. "Ini akan membantu orangtua menjadi lebih tertarik pada apa yang dirasakan bayi mereka yang menangis dan mengurangi kecemasan mereka," ujarnya.
Bagi Indonesia, di mana angka partisipasi pengasuhan oleh kakek-nenek masih tinggi namun kesadaran akan kesehatan mental ibu mulai meningkat, teknologi serupa berpotensi diadopsi. Namun, tantangan seperti biaya, literasi digital, dan akurasi deteksi untuk bayi dengan latar belakang etnis berbeda perlu dipertimbangkan. Apakah aplikasi semacam ini akan menjadi solusi universal atau sekadar alat bantu sementara? Waktu yang akan menjawab.



