Motoguo Bangkit dari Hiatus: Strategi Baru Label Mode Malaysia Hadapi Burnout
Baca dalam 60 detik
- Setelah vakum dua tahun, label mode Motoguo kembali dengan pendekatan bisnis yang lebih terstruktur dan fokus pada kesejahteraan tim.
- Pendiri Motoguo mengakui tekanan pasar China pasca-pandemi memicu kelelahan dan kerentanan fundamental perusahaan.
- Koleksi terbaru Motoguo mengusung tema afirmasi diri, terinspirasi film Little Miss Sunshine, dan dipasarkan lewat kanal langsung ke konsumen.

Motoguo, label mode asal Malaysia yang dikenal dengan estetika maksimalis dan humor subversif, resmi kembali setelah vakum dua tahun. Pendirinya, Guo Moto dan Kinder Eng, mengakui bahwa tekanan industri dan kelelahan mental menjadi alasan utama mereka menghentikan operasi pada 2024.
Didirikan pada 2015, Motoguo sempat mencatat sejarah sebagai label Asia Tenggara pertama yang masuk daftar pendek LVMH Prize pada 2016. Karya mereka muncul di serial populer seperti Euphoria dan Emily in Paris. Namun, kesuksesan di pasar China justru menjadi bumerang. Permintaan yang melonjak pasca-pandemi membuat tim kewalahan. “Kami bergantian jatuh sakit begitu ritme melambat,” ujar Guo.
Selama hiatus, Eng memanfaatkan teknologi untuk mengelola rutinitas pribadi dan meningkatkan efisiensi operasional. Kini ia fokus pada alur kerja dan tenggat, sementara Guo menangani operasional dan pengembangan proyek. “Dulu kami terus menggeser deadline karena saya ingin sempurna. Kini ada struktur yang lebih jelas,” kata Guo.
Kembalinya Motoguo juga menandai perubahan strategi pemasaran. Mereka beralih ke model direct-to-consumer, mengumpulkan data pelanggan, dan menguji platform baru. “Beberapa toko lama sudah tutup. Kami harus bereksperimen,” jelas Eng. Di media sosial, mereka merilis seri Instagram Reels yang menampilkan kolaborator setia, seperti pembuat prototipe dan peritel awal yang mendukung visi mereka.
Momentum kebangkitan Motoguo dimulai saat mereka berpartisipasi dalam Shanghai Fashion Week 2026 melalui program Creative Talent Programme. Ajang itu menjadi panggung bagi mereka untuk memamerkan koleksi terbaru dan filosofi merek. “Kami sangat lapar untuk menunjukkan karya lagi,” kata Guo. Koleksi yang ditampilkan, lengkap dengan instalasi lingkungan, berhasil merebut hati juri.
Bagi pengamat mode Indonesia, kembalinya Motoguo memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya keseimbangan antara kreativitas dan keberlanjutan bisnis. Industri fesyen Tanah Air, yang juga digerakkan oleh label independen, kerap menghadapi tekanan serupa. Langkah Motoguo dalam merombak model bisnis dan mengutamakan kesehatan tim bisa menjadi referensi bagi desainer lokal yang ingin bertahan di tengah persaingan global.
Ke depan, Motoguo berencana terus mengeksplorasi kanal penjualan langsung dan memperkuat hubungan dengan komunitas. “Kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada koleksi berikutnya. Tapi kami percaya pada prosesnya,” tutup Eng. Pertanyaannya, akankah pendekatan baru ini cukup untuk mempertahankan relevansi di industri yang terus berubah?



