Gelombang Panas Memicu Lonjakan Permintaan Servis AC di Malaysia, Pelajaran bagi Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Cuaca ekstrem dengan suhu 35–37°C memicu krisis perbaikan AC di Malaysia, dengan waktu tunggu hingga berminggu-minggu.
- Warga beralih ke panel surya dan AC inverter untuk mengatasi tagihan listrik yang membengkak akibat pemakaian nonstop.
- Fenomena ini menjadi peringatan bagi Indonesia yang juga memasuki musim kemarau dengan pola cuaca serupa.

Gelombang panas yang berkepanjangan di Malaysia memicu lonjakan drastis permintaan jasa perbaikan dan perawatan pendingin udara (AC), membuat para teknisi kewalahan dan pelanggan harus menunggu hingga beberapa pekan untuk mendapatkan layanan. Fenomena ini tidak hanya mengubah kebiasaan rumah tangga, tetapi juga mendorong adopsi teknologi hemat energi seperti panel surya dan AC inverter.
Sejak April lalu, suhu di beberapa wilayah Malaysia konsisten berada di kisaran 35–37 derajat Celsius pada siang hari, jauh di atas rata-rata historis. Kondisi ini memaksa banyak keluarga menjalankan AC hampir tanpa henti, yang berujung pada peningkatan konsumsi listrik dan kerusakan unit secara massal. Seorang pensiunan, Michael Chua (68), mengaku jadwal servis AC-nya diundur tiga kali karena para teknisi kebanjiran order. “Sulit tidur di malam hari. Kipas angin sudah diputar maksimal, tapi tetap tidak nyaman,” keluhnya.
Teknisi AC Gary Ong (41) menuturkan bahwa dalam sepekan terakhir, timnya menerima lebih dari sepuluh panggilan setiap hari. “Keluhan terbanyak adalah AC tidak dingin karena dipakai terus-menerus. Biasanya kami bisa menjadwalkan dalam seminggu, sekarang bisa sampai sebulan,” ujarnya. Rekannya, Faizal, mengaku terpaksa menunda janji servis karena beban kerja yang tak tertahankan. “Saya paham frustrasi keluarga dengan anak kecil atau lansia, tapi kemampuan kami terbatas,” tambahnya.
Di tengah krisis ini, sebagian warga mulai melirik solusi energi alternatif. Marketing consultant Daniel Wong (38) mengganti tiga unit AC lamanya dengan model inverter setelah tagihan listriknya melonjak drastis. “Unit lama masih berfungsi, tapi konsumsi dayanya terlalu tinggi. Dengan panas seperti ini, AC menyala hampir nonstop,” katanya. Ia mengaku langkah itu diambil demi kenyamanan anak-anaknya yang masih kecil dan untuk menghemat biaya dalam jangka panjang. Sementara itu, pensiunan Lee mempertimbangkan pemasangan panel surya atap. “Saya tidak perlu khawatir AC menyala lebih lama saat panas, dan tagihan listrik bisa terkontrol,” jelasnya.
Fenomena serupa berpotensi terjadi di Indonesia, yang tengah memasuki puncak musim kemarau dengan suhu ekstrem di sejumlah daerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu di beberapa kota besar seperti Jakarta dan Surabaya bisa mencapai 36–38°C pada siang hari. Jika pola konsumsi AC di Indonesia mengikuti tren Malaysia, lonjakan permintaan servis dan kenaikan tagihan listrik diprediksi akan terjadi dalam waktu dekat. Para ahli menyarankan masyarakat untuk mulai beralih ke AC inverter atau mempertimbangkan energi surya guna mengantisipasi beban listrik yang membengkak.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah infrastruktur kelistrikan dan tenaga teknis di Indonesia siap menghadapi lonjakan permintaan serupa? Dengan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, adaptasi terhadap teknologi hemat energi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.



