Daripada Dibuang, Warga Singapura Pilih Berbagi dan Memperbaiki Barang Bekas
Baca dalam 60 detik
- Platform GoodHood memfasilitasi pemberian barang bekas layak pakai antarwarga, dengan lebih dari 120.000 item senilai S$6 juta telah dibagikan.
- Repair Kopitiam, inisiatif perbaikan sukarela, mencatat lonjakan 37% barang yang diperbaiki dalam dua tahun terakhir, dengan tingkat keberhasilan 64%.
- Langkah ini sejalan dengan penurunan 21% sampah per kapita di Singapura sejak 2015, didorong oleh semangat komunitas dan ekonomi sirkular.

Ketika Magdalene Liaw pindah rumah, ia dihadapkan pada tumpukan puluhan barang yang masih berfungsi. Alih-alih menjual atau menyumbangkannya ke lembaga sosial, ibu dua anak ini memilih jalur yang lebih personal: memberikan langsung kepada tetangga yang membutuhkan melalui aplikasi GoodHood. Dalam sekejap, hampir 50 barang—dari buku, pakaian, hingga kulkas—berpindah tangan tanpa biaya sepeser pun.
GoodHood, yang dirintis Nigel Teo enam tahun silam, mengusung semangat gotong royong ala kampung di era digital. “Kami ingin menghidupkan kembali kebiasaan saling memberi antar tetangga,” ujar Teo. Aplikasi ini kini memiliki sekitar 120.000 pengguna, dengan lebih dari 120.000 barang senilai total S$6 juta (sekitar Rp70 miliar) telah dibagikan. Dalam setahun terakhir, jumlah pengguna bertambah 15.000 orang.
Untuk memastikan bantuan tepat sasaran, GoodHood mengintegrasikan verifikasi Singpass dan kartu CHAS (Community Health Assist Scheme). Pengguna dapat memprioritaskan penerima dari rumah tangga berpendapatan rendah—pemegang kartu CHAS biru atau oranye. “Memberi langsung ke orang yang dikenal memberikan kepuasan lebih,” kata Teo. Platform ini juga menggelar acara pemberian barang di komunitas dan bekerja sama dengan organisasi amal serta perusahaan.
Fenomena ini beriringan dengan data resmi: sampah rumah tangga per kapita di Singapura pada 2025 turun 21% dibanding 2015, menurut Badan Lingkungan Nasional. Masyarakat mulai beralih dari kebiasaan membuang ke arah penggunaan ulang dan perbaikan. Salah satu motor penggeraknya adalah Repair Kopitiam, program perbaikan sukarela yang beroperasi di 10 lokasi setiap akhir bulan.
Repair Kopitiam mencatat lonjakan signifikan: dari 1.700 barang yang dibawa untuk diperbaiki pada 2023 menjadi 2.329 barang pada 2024—kenaikan lebih dari sepertiga. Tingkat keberhasilan perbaikan mencapai 64%. Koordinator Veerappan Swaminathan menilai motivasi warga tak semata lingkungan, tapi juga sentimental, hemat biaya, dan kesenangan memecahkan masalah. “Banyak orang ingin memperbaiki, tapi tidak punya alat atau pengetahuan. Kami menyediakan keduanya,” jelasnya.
Program ini juga menarik minat kalangan senior. Repair Kopitiam meluncurkan Repair Club, yang memberdayakan lansia untuk menjalankan kelompok perbaikan mandiri di pusat kegiatan usia lanjut. Saat ini tengah diujicobakan di tiga pusat, dengan potensi ekspansi ke lebih dari 280 pusat serupa di seluruh Singapura. “Para senior melihat perbaikan sebagai aktivitas pemecahan masalah dan ajang bersosialisasi,” tambah Veerappan.
Bagi Indonesia, praktik serupa bisa menjadi inspirasi. Di tengah maraknya platform jual-beli barang bekas, model berbagi gratis dan bengkel komunitas seperti Repair Kopitiam menawarkan alternatif yang lebih inklusif. Jika diterapkan di kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, inisiatif ini berpotensi mengurangi timbunan sampah elektronik dan rumah tangga sekaligus memperkuat solidaritas warga. Pertanyaannya, mampukah gerakan akar rumput ini bertahan tanpa dukungan regulasi dan pendanaan yang memadai?



