Madonna Ungkap Rahasia di Balik Cedera Lutut: Akibat Bertahun-tahun Menari dengan High Heels
Baca dalam 60 detik
- Madonna mengaku kehilangan tulang rawan lutut akibat menari dengan sepatu hak tinggi dan berlari di aspal selama puluhan tahun.
- Bintang pop berusia 67 tahun itu kini beralih ke olahraga low-impact seperti sepeda statis dan latihan sirkuit untuk menjaga kebugaran.
- Perubahan gaya hidup Madonna menjadi pengingat bagi penggemar di Indonesia tentang pentingnya menjaga kesehatan sendi di usia lanjut.

Madonna, ikon pop dunia yang telah menghibur jutaan penggemar selama lebih dari empat dekade, akhirnya buka suara mengenai kondisi lututnya yang memburuk. Dalam wawancara terbaru dengan majalah Interview, pelantun "Like a Virgin" itu mengungkapkan bahwa ia kini harus menghadapi kenyataan pahit: lututnya sudah tidak memiliki tulang rawan akibat bertahun-tahun menari dengan sepatu hak tinggi dan menjalani latihan fisik yang ekstrem.
Penyanyi berusia 67 tahun itu menjelaskan bahwa kebiasaannya menari dengan high heels, berlari di permukaan aspal, dan berlatih Ashtanga yoga secara berlebihan telah merusak sendi lututnya. "Saya tidak memiliki tulang rawan di lutut saya, berkat menari terlalu lama dengan sepatu hak tinggi dan berlari di aspal serta melakukan Ashtanga yoga," ujarnya. Kondisi ini memaksanya untuk mengubah total rutinitas olahraganya dalam setahun terakhir.
Madonna mengaku bahwa dulu ia sering melompat di trampolin, melakukan dance cardio, dan berbagai aktivitas yang membebani sendi. Namun, dokter kini melarangnya melakukan gerakan-gerakan tersebut. "Sampai setahun yang lalu, saya melompat di trampolin dan melakukan dance cardio serta banyak hal yang oleh dokter disebut membebani sendi. Tidak bisa lagi," kata penyanyi yang telah menjual lebih dari 300 juta rekaman di seluruh dunia itu.
Meski harus mengurangi intensitas latihan, Madonna tetap berkomitmen menjaga kebugaran. Ia kini mengandalkan sepeda statis Peloton, alat pendaki Versa Climber, dan latihan sirkuit intensitas tinggi. "Saya juga sering bersepeda di luar ruangan. Saya menari," tambahnya. Perubahan ini menunjukkan bahwa bahkan seorang superstar sekalipun harus beradaptasi dengan kondisi fisik yang menua.
Kisah Madonna ini relevan bagi banyak orang Indonesia, terutama mereka yang gemar berolahraga dengan intensitas tinggi tanpa memperhatikan kesehatan sendi. Dokter ortopedi di Indonesia sering menangani kasus cedera lutut akibat olahraga berlebihan, terutama pada wanita yang terbiasa memakai sepatu hak tinggi dalam waktu lama. Menurut data Kementerian Kesehatan, kasus osteoartritis lutut terus meningkat seiring bertambahnya usia populasi.
Selain soal lutut, Madonna juga berbicara tentang gaya hidupnya yang nomaden. Ia mengaku tidak betah tinggal di satu tempat lebih dari tiga tahun. Setelah pandemi COVID-19, ia pindah dari New York ke London. "Saya seperti gipsi. Saya suka terus bergerak, keluar dari zona nyaman. Itu membuat saya merasa hidup," ungkapnya. Namun, ia menambahkan bahwa New York saat ini terasa membosankan baginya, meski ia merindukan Central Park dan Museum Metropolitan.
Pernyataan Madonna tentang lututnya menjadi pengingat bahwa tubuh memiliki batas, bahkan bagi mereka yang tampak tak terkalahkan. Pertanyaannya, akankah para penggemar setianya di Indonesia—yang kerap meniru gaya berpakaian dan tariannya—juga mulai lebih memperhatikan kesehatan sendi sebelum terlambat?



