Badai Hujan Hentikan Laga Prancis vs Irak di Piala Dunia Selama Dua Jam
Baca dalam 60 detik
- Laga Prancis melawan Irak di Piala Dunia terhenti selama lebih dari dua jam akibat badai petir yang melanda Philadelphia.
- Stadion Philadelphia yang sebagian besar terbuka memaksa puluhan ribu suporter berlindung di area dalam stadion.
- Kejadian ini menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur stadion di Amerika Serikat terhadap cuaca ekstrem.

Pertandingan Piala Dunia antara Prancis dan Irak di Philadelphia pada Senin (22/6) harus dihentikan selama lebih dari dua jam setelah badai petir hebat melanda kota tersebut, menyebabkan babak kedua baru dimulai pukul 20.00 waktu setempat, dua jam lebih lambat dari jadwal.
Laga yang berlangsung di Stadion Philadelphia—sebelumnya dikenal sebagai Lincoln Financial Field—itu dimulai dalam kondisi cerah, namun hujan deras mulai mengguyur menjelang akhir babak pertama. Begitu peluit turun minum dibunyikan, panitia langsung menginstruksikan penonton untuk meninggalkan area tempat duduk terbuka dan berlindung di bagian stadion yang beratap. Dari total kapasitas 68.324 kursi, mayoritas tidak terlindung dari cuaca, sehingga ribuan suporter berdesakan di koridor dan lorong stadion.
Prancis unggul 1-0 di babak pertama berkat gol Kylian Mbappe pada menit ke-14. Namun, keunggulan itu harus ditunda kelanjutannya karena pihak penyelenggara menerapkan protokol ketat cuaca buruk yang berlaku di Amerika Serikat. Petugas kebersihan stadion kemudian bekerja keras menggenangi air yang menggenangi permukaan lapangan sebelum pertandingan dilanjutkan.
Steven Jouan, suporter Prancis asal Carolina Selatan yang hadir bersama pasangannya, mengaku sudah siap dengan situasi seperti ini. "Kami bawa jas hujan, kami siap. Kami sudah sering nonton pertandingan olahraga lain, jadi tahu bahwa penundaan bisa terjadi. Kebanyakan pertandingan lain dibatalkan, tapi ini Piala Dunia—kita harus bertahan," ujarnya.
Penundaan ini menjadi yang pertama di Piala Dunia edisi kali ini akibat ancaman cuaca buruk. Namun, bukan hal baru bagi Amerika Serikat. Pada Piala Dunia Antarklub tahun lalu, beberapa laga juga tertunda karena badai, termasuk pertandingan Chelsea melawan Benfica di Charlotte yang terhenti hampir tiga jam menjelang akhir waktu normal. Hal ini menyoroti tantangan logistik penyelenggaraan turnamen besar di negara dengan cuaca ekstrem yang kerap tak terduga.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya infrastruktur stadion yang adaptif terhadap cuaca. Meski Indonesia jarang dilanda badai petir seperti di AS, curah hujan tinggi sering mengganggu pertandingan sepak bola di dalam negeri. Beberapa stadion seperti Gelora Bung Karno dan Stadion Utama Riau masih memiliki area terbuka yang rentan. Jika Indonesia ingin menjadi tuan rumah turnamen internasional di masa depan, investasi pada atap stadion dan sistem drainase yang andal mutlak diperlukan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah FIFA akan merevisi protokol cuaca buruk atau justru mendorong tuan rumah untuk membangun stadion tertutup penuh. Sementara itu, Prancis dan Irak harus menyelesaikan laga yang masih menyisakan 45 menit penuh ketegangan.



