Piala Dunia di Layar, Dapur Tetap Menyala: Beban Ganda Perempuan di Balik Euforia Sepak Bola
Baca dalam 60 detik
- Euforia Piala Dunia di Bangladesh menyisakan cerita lain: perempuan kerap menjalankan peran ganda sebagai penonton sekaligus penyedia konsumsi keluarga.
- Pengamat gender menilai turnamen ini hanya salah satu contoh bagaimana kerja rumah tangga yang tak dibayar (unpaid care work) terus tersembunyi di balik perayaan besar.
- Meski ada perubahan positif di beberapa keluarga, kesenjangan waktu luang antara laki-laki dan perempuan masih menjadi persoalan struktural yang perlu diakui.

Setiap empat tahun, Piala Dunia menyulap jalanan, rumah, dan perbincangan warga Bangladesh menjadi lautan euforia—namun di balik sorak-sorai dan layar televisi yang menyala hingga dini hari, ada cerita lain yang jarang tersorot: bagaimana perempuan menjalani demam sepak bola itu di dalam rumah mereka sendiri.
Meski tim nasional Bangladesh tidak pernah lolos ke putaran final, antusiasme terhadap turnamen ini tak kalah membara. Warung teh berubah menjadi panggung debat taktik, keluarga rela begadang demi laga yang berlangsung ribuan kilometer jauhnya, dan media sosial dibanjiri selebrasi serta duka. Namun, bagi banyak perempuan, pengalaman menonton Piala Dunia tidak sesederhana duduk santap di sofa.
Seperti diungkapkan Raima, seorang mahasiswi yang mengaku gemar mengikuti Piala Dunia, momen menonton seringkali terpecah. “Saya punya tim dan pemain favorit. Tapi saat pertandingan besar, semua orang juga menunggu camilan, teh, atau hal lain. Kadang saya melewatkan momen penting karena harus membantu ibu di rumah,” katanya. Kisah Raima mencerminkan realitas yang dihadapi banyak perempuan: ikut merayakan, namun tetap memikul tanggung jawab membuat perayaan itu nyaman bagi orang lain.
Atia Sanjida Shushoma, dosen Departemen Studi Perempuan dan Gender Universitas Dhaka, menilai Piala Dunia hanyalah satu contoh dari pola yang lebih besar. “Pekerjaan perawatan yang tak dibayar (unpaid care work) adalah isu utama, tidak hanya di Bangladesh tapi secara global. Area ini tetap tidak terlihat,” ujarnya. Menurut Shushoma, perayaan besar seperti Puja, Idul Fitri, atau Tahun Baru juga menyimpan pola serupa: kegembiraan yang dinikmati banyak orang bergantung pada persiapan yang seringkali tidak dianggap sebagai kerja—memasak, melayani tamu, membersihkan, mengatur rumah tangga—yang sebagian besar dibebankan pada perempuan.
Shushoma menambahkan, masalahnya bukan hanya pada jumlah pekerjaan yang dilakukan perempuan, melainkan juga pada anggapan bahwa waktu perempuan selalu tersedia. “Ibu saya tertarik pada sepak bola dan menonton pertandingan, tapi dia tidak bisa duduk terus karena tanggung jawab rumah tangga terus menyela,” ungkapnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak bentuk kerja domestik telah dinormalisasi sedemikian rupa sehingga tidak lagi dikenali sebagai pekerjaan.
Namun, tidak semua pengalaman perempuan seragam. Khurshida, seorang profesional muda, menceritakan bahwa malam Piala Dunia di keluarganya kini lebih setara. “Dulu ibu hampir mengurus semuanya—membuat teh, menyiapkan makanan, mengatur segalanya. Sekarang ayah dan saudara laki-laki saya juga membantu. Kami menonton bersama dan semua berkontribusi,” katanya. Perubahan kecil ini menunjukkan bahwa peran rumah tangga tidak bersifat tetap dan bisa bergeser ketika keluarga menyadari bahwa kenikmatan dan tanggung jawab harus dibagi.
Piala Dunia memang perayaan sepak bola, tapi ia juga menawarkan kesempatan untuk melihat lebih dekat kehidupan sehari-hari: siapa yang benar-benar bisa menikmati momen, siapa yang mendukung dari balik layar, dan apakah tanggung jawab yang membuat perayaan itu terwujud sudah benar-benar dibagi secara adil. Karena sepak bola mungkin dimainkan di lapangan, tapi pengalaman menontonnya juga diciptakan di dalam rumah. Pertanyaan sederhana yang layak diajukan: siapa yang membuat momen-momen itu mungkin terjadi, dan apakah mereka mendapat kesempatan yang sama untuk menikmatinya?



