Messi Pecahkan Rekor Piala Dunia, Scaloni Akui Lelah dengan Sorotan Terus-Menerus
Baca dalam 60 detik
- Lionel Messi mencetak dua gol ke gawang Austria, menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan 18 gol, melampaui rekor Miroslav Klose dan Marta.
- Pelatih Argentina Lionel Scaloni mengaku lelah dengan pertanyaan terus-menerus tentang Messi, namun tetap memuji dedikasi dan kontribusi sang kapten di lapangan.
- Kemenangan 2-0 memastikan Argentina lolos ke babak gugur Piala Dunia 2026, dengan Scaloni menegaskan timnya akan menjadi penantang serius di fase akhir turnamen.

Lionel Messi kembali menorehkan sejarah di Piala Dunia 2026. Dua golnya ke gawang Austria pada laga Grup J di Dallas Stadium, Senin (22/6), mengantarkan Argentina menang 2-0 sekaligus mengukuhkan Messi sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa turnamen ini dengan torehan 18 gol. Rekor tersebut memecahkan catatan Miroslav Klose (16 gol) di sektor putra dan Marta (17 gol) secara keseluruhan.
Namun, di balik pencapaian monumental itu, Pelatih Argentina Lionel Scaloni mengungkapkan kelelahan yang tak biasa. Bukan karena jadwal padat atau tekanan taktik, melainkan karena sorotan tak henti-hentinya terhadap sang megabintang. "Saya tidak punya kata-kata lagi untuk membicarakan Leo. Rasanya sedikit melelahkan terus membahasnya sepanjang waktu," ujar Scaloni dalam konferensi pers usai pertandingan, seperti dilansir Reuters.
Pernyataan Scaloni mencerminkan dilema yang kerap dihadapi tim yang diperkuat pemain sekaliber Messi. Di satu sisi, kontribusinya di lapangan tak terbantahkan. Gagal mengeksekusi penalti pada menit kedelapan, Messi bangkit dengan membuka skor setengah jam kemudian. Gol keduanya di masa injury time babak kedua memastikan kemenangan Argentina. Scaloni memuji kerja keras Messi saat tim kesulitan menguasai bola. "Saat tim mengalami masa sulit tanpa bola, dia bekerja, dia berhasil merebut bola. Anda bisa melihat tingkat komitmennya," tambah Scaloni.
Kemenangan ini memastikan langkah Argentina ke babak knockout, menjadikan mereka salah satu tim yang patut diperhitungkan. Scaloni menekankan bahwa Piala Dunia kali ini tidak bisa diprediksi hanya berdasarkan nama besar pemain. "Ada elemen lain yang berperan: tingkat kebugaran, faktor emosional. Banyak tim bisa menang, salah satu tim besar akan menjadi juara. Kami akan ada di sana, menjadi salah satu penantang," ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa lawan akan kesulitan menghadapi Argentina.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, performa Argentina di Piala Dunia 2026 menjadi tontonan menarik, terutama dengan dominasi Messi yang masih berlanjut. Namun, kekhawatiran Scaloni tentang kelelahan media bisa menjadi pelajaran berharga: terlalu fokus pada satu pemain berisiko mengabaikan kekuatan kolektif tim. Argentina membuktikan bahwa mereka bisa "menderita" bersama dan tetap keluar sebagai pemenang, sebuah karakter yang kerap dicari dalam sepak bola modern.
Dengan lolosnya Argentina, pertanyaan selanjutnya adalah: mampukah Messi mempertahankan performa puncaknya di fase gugur? Atau justru sorotan berlebihan akan menjadi bumerang bagi tim juara bertahan? Scaloni tampaknya lebih memilih fokus pada permainan tim daripada terus merayakan rekor individu.



