Ekuador Bantai Jerman 2-1, Lolos ke Fase Gugur Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Gol telat Gonzalo Plata memastikan kemenangan 2-1 Ekuador atas Jerman di laga penutup Grup E.
- Kekalahan ini mengakhiri 11 kemenangan beruntun Jerman, namun kedua tim tetap lolos ke babak 16 besar.
- Ekuador untuk kedua kalinya dalam sejarah menembus fase knockout Piala Dunia setelah comeback dramatis.

Gol dramatis Gonzalo Plata pada menit ke-77 memastikan Ekuador membalikkan keadaan dan mengalahkan Jerman 2-1 di Stadion MetLife, New Jersey, dalam laga penutup Grup E Piala Dunia 2026. Kemenangan ini tidak hanya menghentikan laju 11 kemenangan beruntun Jerman, tetapi juga mengantarkan Ekuador ke babak gugur untuk kedua kalinya dalam sejarah partisipasi mereka.
Jerman sudah memastikan tempat di fase knockout setelah memenangi dua laga sebelumnya, sehingga pelatih Julian Nagelsmann melakukan rotasi dengan menurunkan Antonio Rüdiger dan David Raum di lini belakang menggantikan Nico Schlotterbeck dan Nathaniel Brown yang cedera. Sebaliknya, Ekuador berada dalam tekanan besar—hanya kemenangan yang bisa menjaga asa mereka melaju. Pelatih Sebastián Beccacece melakukan dua perubahan dengan memasukkan Nilson Angulo dan Joel Ordóñez.
Laga baru berjalan dua menit ketika Jerman langsung unggul. Lemparan ke dalam panjang dimanfaatkan Aleksandar Pavlović yang mengirim bola ke Florian Wirtz, lalu diteruskan ke Leroy Sané. Mantan pemain Bayern Munich itu melepaskan tembakan mendatar dari tepi kotak penalti yang bersarang di pojok gawang. Setelah pemeriksaan VAR, gol dinyatakan sah. Namun, keunggulan Jerman hanya bertahan tujuh menit. Nilson Angulo menerima umpan Pedro Vite, maju ke depan, dan melepaskan tembakan keras kaki kanan dari luar kotak penalti yang melesak masuk melewati celah kaki Pavlović, membuat Manuel Neuer tak berkutik.
Gol penyama itu mengubah ritme pertandingan. Ekuador semakin percaya diri dan menekan Jerman dengan agresif. Meski Jerman memiliki peluang melalui Kai Havertz dan Jamal Musiala, fisik Ekuador terbukti tangguh—mereka melakukan delapan pelanggaran di babak pertama. Babak pertama ditutup dengan skor 1-1.
Babak kedua dimulai dengan kontroversi. Wasit menunjuk titik putih setelah Havertz dijatuhkan di kotak penalti, namun VAR membatalkannya karena Sané melakukan pelanggaran di awal serangan. Ekuador terus mengancam lewat serangan balik, dan pada menit ke-73, kesalahan komunikasi antara Jonathan Tah dan Neuer nyaris memberi mereka gol. Namun, momen kejayaan tiba lima menit kemudian. Dari tendangan pojok Pedro Vite, Kevin Rodríguez menyundul bola ke tiang dekat, dan Plata dengan kaki kanannya mengarahkan bola ke bawah mistar dari sudut sempit.
Jerman berusaha keras menyamakan kedudukan di sisa waktu. Pemain pengganti Deniz Undav nyaris mencetak gol setelah lolos dari kawalan di sisi kiri, namun tembakannya hanya mengenai jaring samping. Ekuador bertahan dengan disiplin hingga peluit panjang berbunyi, memastikan kemenangan bersejarah 2-1. Hasil ini mengirim Ekuador ke babak 16 besar untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya mencapai fase itu pada 2006.
Bagi Jerman, kekalahan ini menjadi tamparan keras setelah performa impresif di dua laga awal. Nagelsmann harus segera membenahi pertahanan yang tampak rentan, terutama dalam situasi bola mati. Sementara itu, Ekuador membuktikan bahwa semangat juang dan disiplin taktik bisa mengalahkan tim unggulan. Pertanyaan selanjutnya: mampukah Ekuador melanjutkan kejutan ini di fase gugur, atau Jerman akan bangkit kembali?



